Latest Post

 Ada 2 hal yg menjadi perhatian penting manusia.

Pertama sikap, seperti apa memperlakukan orng lain, bergaul, dan menghadapi serta menyelesaikan masalah.
Kedua adalah kapasitas diri. Kapasitas itu artinya isi. Manusia itu ibarat wadah, bernilai karena isi di dalamnya. Apakah ia diisi dengan air kotor, air mineral, atau madu, atau sekedar diisi oleh angin, itulah yang menentukan Nilai dari diri manusia. Bukankah orang-orang dihargai karena sesuatu kapasitas di dalam dirinya, seperti llmu, keterampilan, dsb. Oleh karena itu, dua hal ini jangan sampai lupa, dan jadikan ini selalu sebuah prinsip sekaligus prioritas dalam menentukan nilai diri.

Einstein pernah berkata "Jangan mencoba jadi orang sukses, cobalah untuk menjadi bernilai."

 Setiap nabi mencari teman

Tidaklah berguna satu tembok yang berdiri sendirian
Namun jika ada tiga atau empat tembok bersama-sama
yang menopang atap demi menjaga
gandum tetap kering dan aman keadaannya

Saat pena bertemu tinta, barulah kertas kosong bisa memiliki makna

Alang-alang dan jerami harus dianyam
supaya berguna sebagai permadani
Tanpa ikatan
angin tentu akan menerbangkannya

Seperti itu, Tuhan memasangkan makhluk
dan memberi mereka persahabatan
[Maulana Rumi]

 Agar menjalani hidup ini tidak penuh tekanan, pegang satu prinsip ini.


*Bahwa apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan luput darimu, begitupun apa yang melewatkanmu tidak akan mengenaimu kecuali apa yang telah ditetapkan. Kendati seluruh penghuni langit dan bumi bersatu untuk memberimu keuntungan atau menimpakan keburukan, hal itu tidak akan terjadi kecuali apa yg telah ditetapkan oleh Allah SWT.*

 Menjadi orang tua itu sulit.

Bagaimana pun lelahnya orang tua, kasih sayangnya terhadap anak tak pernah berhenti.
Tak ada cinta yang lebih tulus diantara makhluk melebihi cinta orang tua kepada anaknya.

Andai engkau punya satu saja,
hati yang bisa mencintai setulus itu.
Cinta yang tak membutuhkan alasan.
Maka engkau akan sangat beruntung hidup di dunia ini.

08-09-20

 Doa Penyegar Jiwa



SPIRITUAL

Ngaji Rumi: Doa yang Menyegarkan Jiwa

JUMAT, 22 MARET 2019


Ilustrasi: "Praying" karya Mihaela Ionescu (2013)

Vincent Brummer, profesor filsafat agama dari universitas Utrecht, dalam bukunya “What Are We Doing When We Pray?” menuliskan, bahkan August Comte, salah seorang peletak dasar mazhab positivisme sekalipun, menganjurkan kepada para pengikutnya untuk berdoa setidaknya dua jam dalam sehari.


Rasanya memang tidak ada agama maupun aliran kepercayaan apapun yang tidak membincangkan doa.


Doa merupakan kebutuhan rohani manusia yang paling dasar. Sebagaimana tubuh kita yang memerlukan makan, minum, dan asupan biologis lainnya. Ruh manusia pun butuh penyegaran melalui sarana doa. Setiap hari kita berdoa, bahkan umat Islam memiliki kesempatan lima kali dalam sehari untuk berdoa. Pertanyaan yang barangkali muncul, doa seperti apa yang dapat memberikan pengaruh dalam perbaikan rohani kita?


Menarik kiranya, menyimak lantunan doa-doa dari para guru sufi dan wali Allah. Selain mereka merupakan pewaris para Nabi, pengalaman pribadi mereka dalam menapaki tangga-tangga spiritual hingga mencapai derajat makrifatullah, dapat menjadi cermin berharga.


Terlebih sosok Rumi, ia tidak hanya guru sufi, tapi juga seorang adib yang memiliki rasa berbahasa tinggi. Lalu bagaimana sebenarnya Rumi memaknai doa yang dilantunkan dalam syair-syairnya, terutama buku Matsnawi?


Pertama, Rumi berpendapat, ketika kita akan mulai berdoa, sesungguhnya Tuhan telah mengabulkan doa itu sendiri. Karena kesadaran untuk berdoa pada hakikatnya adalah hadiah dari-Nya. 


Dalam berbagai bait syair di buku Matsnawi, Rumi bersenandung:


Mata air doa ini bersumber dari kasih sayang dan ajaran Rabbani

Jika tidak, mana mungkin api hawa nafsu menjadi taman rohani

(Matsnawi, jilid 2, bait 2449)


Doa ini sejak awal adalah titah-MU

Jika tidak, mana mungkin hamba lemah ini menghadap-Mu

(Matsnawi, jilid 6, bait 2319)


Kedua, Menurut Rumi, pengakuan dan memaafkan merupakan syarat berdoa, seperti syair yang ditulisnya di buku Matsnawi jilid 5, bait 4010-4011:


Tuhan…telah kuzalimi diriku dan tak terbilang dosaku

Wahai yang Maha Penyayang, ampunilah segala khilafku

Telah kumaafkan siapa saja yang pernah menyakitiku

Maka, duhai Tuhan…maafkanlah segala kesalahanku


Sebagaimana kita ketahui, dosa merupakan salah satu penghalang terkabulnya doa. Sayidina Ali dalam salah satu munajatnya, berdoa, “Ampunilah dosa-dosaku yang menghalangi doa”. Karena itu, Rumi menganjurkan untuk memohon ampunan kepada Allah, sebelum mulai berdoa. Dan Tuhan hanya akan mengampuni orang-orang yang telah memaafkan dirinya dan orang lain yang berbuat salah kepadanya.


Di kelas Yogya yang saya ikuti, sebelum melakukan meditasi, mentor saya menganjurkan untuk menuliskan seluruh hal yang tidak menyenangkan dan mengosongkan jiwa dari segala kebencian.


Ketiga, Rumi menjelaskan, tujuan utama doa adalah berdialog dengan Tuhan. Pendapat ini mewakili banyak tokoh tasawuf, sebagaimana juga Imam Ghazali menyebutkan, doa merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah. Sayangnya, saat berdoa seringkali kita menyebutkan seluruh hajat, dari permintaan umum sampai yang paling detail.


Tetapi, kita melupakan Tuhan sang pengabul hajat itu sendiri. Kita meminta kesuksesan, mengharap umur panjang, rejeki berlimpah, dan kehidupan bahagia. Tapi kita lupa, memohon kedekatan dan keridhaan Allah. Rumi memberikan perumpaan seperti orang yang mengejar laba, tetapi modal utamanya sendiri sebenarnya telah hilang.


Mereka minta apapun dari Tuhan, tapi melupakan Tuhan sendiri

Mereka sangka telah peroleh semuanya, padahal sangat merugi

(Matsnawi, jilid 5, bait 773)


Keempat, Rumi mengajarkan kepada kita untuk berdoa penuh harapan dan cinta. Jauh dari segala keputusasaan. Dalam banyak lantunan puisinya, terutama di buku Matsnawi, Rumi memberikan contoh bermunajat dengan menggunakan diksi indah dan penuh optimisme.


Engkaulah yang mengubah dan memberi ruh pada semesta

Sedang aku hanyalah hamba yang sering khilaf dan alpa


Ubahlah kemarahan yang menguasai diri

Menjadi kesabaran yang tak terperi


Wahai yang mengubah tanah mati menjadi roti

Wahai yang mengubah roti menjadi energi


Duhai yang menjadikan manusia penuh khilaf sebagai pemimpin

Duhai yang menobatkan manusia terasing sebagai Nabi


Duhai yang mengangkat manusia berkalang tanah

Jauh menembus tangga langit tak berbatas

(Masnawi, jilid 5, bait 781-785)


Tuhan…

Engkau dengan segala kesabaran-Mu, telah Kau tutupi aibku yang paling buruk

Jika tidak, dengan segala ilmu-Mu, Engkau mengatahui seluruh keburukanku


Duhai sang Pemaaf tanpa syarat

Di luar segala daya dan upayaku


Di luar segala keyakinan dan ingkarku

Segala keterbatasan dan ketergantunganku


Segala khayalanku dan ratusan orang sepertiku

Segala pengabaian akan perintah-Mu


Aku hanya berharap pada kasih sayang-Mu yang tulus

Aku bergantung pada ampunan-Mu yang tak berujung


Duhai Tuhan…

Aku mengharap pada ketulusan kasih-Mu

Bukan pada amal yang kuperbuat

(Masnawi, jilid 5, bait 1836-1841)

 Sejarah


Sejarah adalah penyelidikan penelitian tentang peristiwa khusus unik yang terjadi satu kali dan membawa perubahan yang berarti dalam batasan ruang dan waktu. sejarah bisa pula berarti peristiwa penting yang terjadi Sejak ditemukannya catatan tertulis hingga sekarang. Cara berpikir sejarah dapat dimaknai sebagai konsep dalam mengkaji sejarah. Secara mudahnya konsep/cara berpikir sejarah dibagi menjadi tiga konsep, yaitu: kronologis (diakronik), sinkronik, dan konsep ruang dan waktu.


Cara berpikir kronologis/diakronik berasal dari kata kata dia kronik, dalam bahasa Latin "Dia" memiliki arti melalui atau melampaui dan yang berarti waktu titik sehingga dapat diartikan cara berpikir sejarah yang memanjang dalam waktu tetapi terbatas dalam ruang titik berpikir diakronik adalah berpikir kronologis (urutan) dalam menganalisa sesuatu. Kronologi sendiri diartikan sebagai catatan kejadian yang diurutkan sesuai waktu kejadiannya.


Adapun ciri ciri cara berpikir diakronis yaitu

1 digunakan banyak dalam ilmu sejarah 2 menguraikan secara dinamis dan berdimensi waktu titik 3 bersifat komparatif dengan cakupan lebih luas.


Yang kedua adalah cara berpikir sejarah secara sinkronik sinkronik artinya meluas dalam ruang terbatas dalam waktu titik-titik pendekatan sinkronik biasanya digunakan dalam ilmu sosial pendekatan ini menganalisa sesuatu tertentu pada saat tertentu, titik tetap pada waktunya.


Sementara itu, konsep berpikir sejarah secara ruang dan waktu tidak dapat didefinisikan begitu saja titik pertama ruang dalam sejarah merupakan tempat terjadinya peristiwa berkaitan dengan aspek geografis sedangkan waktu berkaitan erat dengan kehidupan masa lalu kini dan masa depan titik mempelajari sejarah bukan hanya sesuatu yang berhenti tetapi juga sesuatu yang terus bergerak sejalan dengan perjalanan waktu. Setiap peristiwa sejarah berada dalam kurun waktu tertentu yang memiliki latar belakang sebelumnya.




Konsep ruang dan waktu merupakan unsur penting yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu peristiwa dan perubahannya dalam kehidupan manusia sebagai subjek atau pelaku sejarah. Segala aktivitas pasti berlangsung bersamaan dengan tempat dan waktu kejadian titik perjalanan manusia selama hidupnya sama dengan perjalanan waktu itu sendiri pada suatu tempat dimana manusia hidup.



Nurmarifa8.blogspot.co.id/2014/12/BerfikirSejarah.html

 Mengapa Antri

MENGAPA GURU DI NEGARA MAJU LEBIH KHAWATIR JIKA MURIDNYA TIDAK BISA MENGANTRI KETIMBANG TIDAK BISA MATEMATIKA ?

INILAH JAWABANNYA :


Seorang guru   di Australia pernah berkata :

“Kami tidak terlalu khawatir anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”


Saya tanya "kenapa begitu?”


Jawabnya :


1. Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak jadi penari, atlet, musisi, pelukis, dsb.

3. Karena semua murid sekolah pasti lebih membutuhkan pelajaran Etika Moral dan ilmu berbagi dengan orang lain saat dewasa kelak.

”Apakah pelajaran penting di balik budaya MENGANTRI?”


”Oh banyak sekali.."


1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya jika ia mendapat antrian di tengah atau di belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal.

4. Anak belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan berkomunikasi dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Dan masih banyak pelajaran lainnya, silakan anda temukan sendiri..

FAKTANYA di Indonesia..


Banyak orang tua justru mengajari anaknya dlm masalah mengantri dan menunggu giliran, Sebagai berikut :


1. Ada orangtua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”   

2. Ada orangtua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orangtua yang memakai taktik atau alasan agar dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan, dengan alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dsb.

4. Ada orang tua yang marah-marah karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi si penegur.

5. Dan berbagai kasus lain yang mungkin pernah anda alami.

Yuk kita ajari anak-anak kita, kerabat dan saudara untuk belajar etika sosial, khususnya ANTRI.


Budaya SUAP dan KORUPSI juga dimulai dari tidak mau belajar mengantri.....



Copas dari beberapa sumber

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget