Cerpen Mereka Bilang Saya Monyet - Djenar Maesa Ayu

Mereka Bilang Saya Monyet!

oleh Djenar Maesa Ayu

 
Sepanjang hidup saya melihat manusia berkaki empat. Berekor anjing, babi atau kerbau. Berbulu serigala, landak atau harimau. Dan berkepala ular, banteng atau keledai. Tetap saja mereka bukan binatang. Cara mereka menyantap hidangan di depan meja makan sangat benar. Cara mereka berbicara selalu menggunakan bahasa dan sikap yang sopan. Dan mereka membaca buku-buku bermutu. Mereka menulis catatan-catatan penting. Mereka bergaun indah dan berdasi. Meskipun konon mereka memiliki hati.

Waktu saya menyatakan bahwa saya juga memiliki hati, mereka tertawa dan memandang saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksudkan adalah perasaan, selain itu mereka juga memiliki otak. Tapi kompilasi saya protes dan menyatakan bahwa saya pun punya otak, lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal. 

Saya benar-benar tidak mengerti maksud mereka. Yang saya tahu saat itu hanya hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu. Mungkinkah ini yang disebut perasaan? Tapi aku sudah terlanjur kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang aku rasakan. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan, lalu apakah mereka bisa menertawakan saya tanpa mempedulikan perasaan saya sama sekali?

Pada saat saya menjawab pertanyaan ini, saya pun berpikir. Apakah ini maksud mereka dengan akal? Lalu mengapa tidak sampai pada pikiran yang saya tidak berhasil dibuat bahan tertawaan?

Saya meninggalkan mereka diam-diam. Suara tawa mereka makin lama makin hilang seiring bertambahnya kaki saya naik. Saya tahu saya tidak perlu pergi dengan cara diam-diam. Kepergian saya toh tidak akan mengundang perhatian. Tapi mungkin memikirkan cara saya untuk membebaskan diri sendiri dari keterasingan.

Tanpa saya sadari kaki sudah mengantarkan saya sampai di depan pintu kamar mandi. Kamar mandi itu dipindahkan dari dalam. Maka saya menunggu sambil berdiri di depan sebuah cermin besar.

Saya memperhatikan bayangan diri saya di dalam cermin dengan cermat. Saya berkaki dua, berkepala manusia, tetapi menurut mereka adalah binatang. Kata mereka adalah kuda monyet. Waktu mereka mengatakan itu kepada saya, saya sangat gembira. Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling disukai manusia. Berarti derajat saya di atas mereka. Tapi mereka percaya karena mereka manusia, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanya mencoba hewan. Hanya seekor monyet!

Kebutuhan saya untuk buang air kecil. Pintu kamar mandi masih diatur. Saya mengetuk pintu pelan-pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara air. Tidak ada suara mengedan. Saya menempelkan telinga saya di mulut pintu. Saya mendengar desahan tertahan. Saya kembali mengetuk pintu. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam. Sepasang laki-laki dan perempuan keluar dari dalam kamar mandi. Yang laki-laki lantang memaki, "Dasar binatang! Dasar monyet! Gak punya otak ngintip-ngintip orang!"

Seharusnya saya menghajar laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu. Tapi saya memang tidak cepat menyelesaikan jika diserang tanpa ada persiapan. Atau mungkin saya memang tidak akan mampu melawan Meskipun sudah tahu akan diserang. Saya sudah terbiasa menghabiskan rongsokan tanpa dikunyah lebih dulu. Saya sudah terbiasa kalah dan butuh kepahitan. Karena itu saya hanya terlongong-longong sambil menyaksikan mereka berdua berlalu.
***

Mereka masih duduk menunggu tiga meja bundar. Saya menghampiri dan duduk di kursi paling ujung. Kursi yang saya duduk sebelum saya pergi ke kamar mandi sudah terisi. Seperti biasa mereka tidak terlalu peduli akan menghadiri saya.

Laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking duduk tepat di seberang saya. Perempuan yang sebelumnya bersamanya di kamar mandi duduk agak jauh dan sedang menyenderkan kepala ularya di atas dada laki-laki berkepala buaya yang lain. Saya menggeleng-gelengkan kepala tanpa sengaja. Laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking menyeringai sambil mengedipkan mata ke arah saya. Sungguh, kali ini aku benar-benar ingin menghajarnya.

Malam semakin larut. Botol-bir kosong dan gelas-gelas yang setengah terisi memadati meja. Saat mereka berbicara, suara mereka setengah berteriak seperti berhasil mengalahkan suara penyanyi dengan keyboard -nya. Namun sikap duduk mereka masih sama seperti kompilasi pertama kali mereka datang ke kafe ini. Hanya rona wajah mereka saja yang mulai memerah. Yang berkepala gajah, wajah abu-abunya berubah jadi merah.Yang berkepala harimau, wajah warna cokelatnya berubah merah. Serigala yang berkepala, wajah warna hitamnya berubah merah. Meja kami memuji wajah-wajah berwarna merah dan mata yang mulai sayu.Tawa mereka mulai lepas. Tapi sikap mereka tetap pada batas-batas kewajaran. Apakah itu yang mereka namakan akal dan perasaan?

Saya mulai jengah. Saya mulai mengangkat kaki saya ke atas meja. Kepala saya menghentak-hentak keras mengikuti irama lagu. Si Kepala Gajah menghentakkan belalainya ke pipi saya dengan keras. Saya menatapnya sambil lalu kembali asyik dengan diri saya sendiri. Si Kepala Serigala menendang kaki saya di bawah meja sampai saya menjerit kesakitan. Secara bersamaan yang lainnya melotot ke arah saya. Saya tetap tidak peduli. Saya malah beranjak dari kursi lalu ke panggung dan merampas mike dari tangan penyanyi.

Saya meminta pemain untuk memainkan keyboard La Bamba . Dengan menyetujui pemain keyboard menerima permintaan saya. Saya mulai berjingkrak-jingkrak sambil irama musik dan suara saya yang terdengar tidak merdu. Saya berputar ke kiri, berputar ke kanan, bergerak maju, bergerak ke belakang bertepuk tangan, berteriak kencang, duduk di atas pangkuan pemain keyboard dan semua yang ada di kafe itu ikut bersorak-sorai dan bertepuk tangan.

Saya menyanyikan beberapa lagu lagi dan puas. Akhirnya saya kembali ke meja dan menenggak satu gelas bir besar dalam satu kali tegukan. Semua yang ada di meja itu ditambahkan mengacuhkan saya. Saya tahu mereka yang mengaku berperasaan itu mungkin sedang diserang perasaan yang mereka namakan malu. Atau akal merekakah yang sedang mengatur hati untuk membohongi perasaannya sendiri?

Akhirnya saya tidak tahan juga dan bertanya pada Si Kepala Gajah di sebelah saya, "Apakah ada yang terlintas di Kepala Gajahmu?"

Si Kepala Gajah diam saja. Saya melayangkan pertanyaan yang sama untuk Si Kepala Serigala. Seperti Si Kepala Gajah, ia diam saja. Akhirnya saya bertanya kepada semua yang ada di meja itu. Si Kepala Babi dan Si Kepala Kuda mendengus acuh tak acuh. Si Kepala Kuda meringkik. Si Kepala Sapi melenguh. Hanya Si Kepala Anjing yang berani menggonggong. 

"Bagaimana kamu mau disebut manusia? Wujudmu boleh manusia, tapi kelakuanmu benar-benar monyet!"

"Tapi bukankah kalian ikut bergoyang? Apakah kalian ikut bertepuk tangan? Sebaliknya aku juga melihat sebagian dari kalian tertawa-tawa." 

Ia kembali menggonggong tertahan.

"Coba bicara dengan yang tidak punya otak! Sudahlah, kamu tidak akan pernah bisa mengerti apa yang saya katakan dan maksudkan. Kamu tidak punya perasaan malu. Kamu tidak punya akal untuk menentukan mana yang tidak dan mana yang cocok untuk kamu lakukan." 

Saya malas bertanya lagi. Percuma berbicara kepada seseorang - atau membahas koleksi - yang senang dan berhasil mengumpulkan pada diri sendiri. Saya menuang bir ke gelas saya dan meminumnya dalam satu kali tegukan. Saya menuang bir untuk kedua kalinya dan segera menuntaskannya kembali dalam satu kali tegukan. Saat saya menunggu menuang bir ke gelas saya untuk diterbitkan ulang, Si Kepala Anjing memegang tangan saya.

Saya heran, tidak biasanya ia memperhatikan saya suka sekarang ini. Tidak ada yang mau peduli pada saya. Keheranan saya berkembang menjadi kecurigaan. Mungkin besar. Mungkin bukan milikmu, tapi aku juga mampus! Ia hanya menyelamatkan diri dari rasa malu. Ia hanya tidak ingin saya melakukan hal-hal yang tidak dapat dicapai dengan akalnya di muka umum. Ya, muka umum. 

Saya tahu terus siapa itu. Saya tahu pasti Si Kepala Anjing terkait dengan banyak laki-laki padahal ia sudah bersuami. Saya tahu pasti Si Kepala Anjing sering mengendus-endus perang Si Kepala Serigala. Bahkan Si Kepala Anjing juga tidak pernah mengendus-endus unggas saya. Kami berkelamin sama.Tapi tidak di depan umum.

Di depan umum ia meminta wanita berkepala anjing dan berbuntut babi yang kerap melepaskan buntutnya di kedua paha singanya. Di depan umum ia hanya penggemar jus jeruk dan tidak merokok seperti saya. Tapi kompilasi ia tidak di depan umum, saya tahu ia menggabungkan ganja, minum cognac dan menyerepet kokain melalui lubang hidungnya yang selalu basah. 

Saya mengibaskan tangan Si Kepala Anjing sampai terlepas dari tangan saya dan mengambil bir lalu menenggak langsung dari botolnya.
***

Mata saya bertubrukan dengan mata Si Kepala Buaya yang berekor kalajengking itu. Perempuan berkepala ularnya masih berasyik masyuk dengan laki-laki berkepala buaya lain. Mungkin laki-laki itu gigolo, pikir saya. Mana mungkin laki-laki sejati rela menyerahkan kekasihnya ke dalam pelukan laki-laki lain?

Saya melihat laki-laki berkepala buaya yang sedang dimesrai oleh perempuan itu lebih banyak laki-laki berkepala buaya yang memaki saya di depan kamar mandi. Secara fisik, laki-laki berkepala buaya di depan saya ini memang lebih menarik dan jauh lebih muda.
Namun seperti Si Kepala Anjing, sikap Si Kepala Buaya tidak kalah berbudayanya jika berada di tempat umum. Saya yakin, pasti tidak ada yang mengira kelakuan Si Kepala Buaya dan Si Kepala Ular juga Si Kepala Anjing, juga mungkin semua kepala-kepala hewan ini kompilasi mereka tidak berada di depan umum. Mungkin saya harus menarik perhatian mereka, mereka bisa melihat dunia lewat pintu hati mereka, dan mereka tahu apa yang sebenamya disebut perasaan!

Tiba-tiba saya terpanggil untuk iseng. Saya meminta selembar kertas dan meminta pena dan pelayan. Saya mulai menulis di secarik kertas itu dan meremasnya di dalam tangan saya. Lalu saya mengedipkan mata ke arah laki-laki berkepala buaya di depan saya sambil mengisyaratkannya untuk menerima saya ke kamar mandi. Si Kepala Buaya mengerti maksudku dan menyeringai senang sambil menganggukkan kepala. Saya Berjalan menuju Kamar Mandi, sambil menyelipkan secarik kertas di balik kerah baju si perempuan berkepala ular.

Saya menunggu di kamar mandi. Tidak lama pintu diketuk. Saya Membuka pintu. Si Kepala Buaya menyeret masuk dan memberondong saya dengan ciuman. Saya cekik lehemya dan saya sandarkan dia ke dinding. Saya hajar mukanya seperti apa yang saya harapkan sebelumnya. Pintu kamar mandi diketuk. Saya Membuka Pintu dan Si Kepala Ular sudah berdiri di depan pintu. Saya mempersilakan ia masuk dan meninggalkan mereka. Saya berbicara suara tamparan di pipi Si Kepala Buaya tempat saya menghajarnya tadi.
***

Si Kepala Serigala menyambut pelayan dan meminta bon untuk segera diterima. Si Kepala Serigala selalu mengeluarkan uang untuk kesenangan kami dan mungkin karena Si Kepala Anjing mengendus-endus kemenangannya. Saya tahu pesta mereka sebentar lagi usai. Tapi saya juga tahu, pesta kemerdekaan saya baru akan dimulai ....

Jakarta, 7 November 2001,12: 19:34 AM
Jurnal Cerpen Indonesia , Edisi 1, Februari 2002
http://goesprih.blogspot.com                                        

Postingan populer dari blog ini

Perhitungan Kebutuhan Pokok

Doa Memohon Kebaikan Umum

Jebakan Pikiran