Kisah Si Telepon Koin - Nisa
Kisah Si Telepon Koin
Lusuh dan penuh noda itulah diriku. Selama bertahun-tahun aku hanya berdiam diri dipinggiran jalan, menunggu datangnya seseorang yang selama ini setia datang menemuiku. Bisingnya suara kendaraan berlalu lalang dan debu yang terus menerus menghinggapi badanku, sudah tak terasa lagi. Kini aku renta. Tidak adalagi yang mempedulikanku, terkadang aku hanya menjadi pelampiasan tangan-tangan jahil para manusia. Dikencingi, dilempari batu, hingga dicoreti. Entah sejak kapan mereka berubah menjadi buas seperti binatang.
Aku memang sebuah benda yang tak ada artinya saat ini. Sejak mereka bersekolah dan menemukan sebuah benda dengan kemampuan yang lebih canggih, aku mulai dikesampingkan bahkan tak pernah dianggap ada lagi. Menjadi penghias kota ? tentu bukan, badanku kini penuh coretan dan berbau pesing mana mungkin aku bisa mempercantik kota. Mungkin aku hanya membantu pada saat hujan turun, melindungi manusia dari air hujan. Itupun jika hujannya tidak terlalu besar. Tidak dihargai itulah aku kini.
Padahal genggaman tangan dan lantunan kisah telah aku rasakan ribuan kali. Kisah cinta, bahagia, haru, kasih sayang, rindu, bangga, duka, pedih, kekecewaan, marah, penderitaan bahkan perjuangan telah aku rasakan. Aku adalah saksi mati kisah para manusia, tetapi mereka membuangku begitu saja.
Genggaman hangat itu aku rasakan 40 tahun yang lalu, seorang pengemis kecil selalu datang mendekatiku. Ia begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu dikepalanya,tetapi badannya yang masih kecil tidak dapat menggapai aku yang tinggi. Hari itu pengemis kecil datang lagi namun ada yang berbeda, seorang pria tua berkemeja putih dengan gulungan di lengannya menghampirinya. Ia tersenyum geli kemudian mulai menceritakan apa yang ingin diketahui oleh pengemis kecil itu.
Hampir setiap hari mereka berdua datang menemuiku dan bercerita. Genggaman tangan pengemis kecil itu membuatku merasa hangat. Tetapi terkadang disuatu malam ia datang sendiri menemuiku, genggamannya tiba-tiba bergetar hebat diselingi isakan kecil kemudian ia bercerita begitu pilu.
Di akhir pekan biasanya pengemis kecil dan pria bekemeja putih itu datang membawa ember dan kain lap. Mereka selalu membersihkan badan-badanku yang mulai kotor. Banyak orang yang memandang mereka aneh tetapi adapula yang memandang mereka dengan tatapan hangat. mereka tidak terlalu memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang dan terus saja membersihkan badanku diakhir pekan.
Hari-hari terlewati, bulan-bulan berganti dengan tahun, si pengemis kecil dan pria tua berkemeja putih semakin akrab bercerita sambil menggenggamku. Hingga pada suatu malam pria tua itu datang dan bersandar dikakiku yang dingin, ia menempelkan secarik kertas di dinding badanku tertatih-tatih. Aku tahu kertas kecil itu tentu pesan yang ia tinggalkan untuk si pengemis kecil esok hari.
Pria tua berkemeja putih itu semakin melemah bersandar dikakiku, hembusan angin malam semakin kencang dan udara semakin terasa dingin. Pria tua itu tetap tersenyum hingga nafasnya perlahan-lahan tak terdengar lagi. Aku bisa merasakan tubuhnya mulai kaku, dan angin malam mengiringinya pergi dengan tenang.
Kicauan burung mulai terdengar, seiring sayup-sayup suara segerombolan orang mulai berdatangan mengelilingiku. Mereka menemukan jasad pria tua berkemeja putih bersandar sambil tersenyum dikakiku. Biarkan aku menjelasakannya! ia sedang tertidur dengan tenang! tolong jangan beritahu si pengemis kecil! tetapi usahaku nihil, aku tetaplah aku. Aku hanya sebuah benda dipinggir jalan, tidak ada satupun benda bisa berbicara.
Dalam kerumunan itu tiba-tiba menyusuplah pengemis kecil, ketika tahu apa yang ia dapati. Ia hanya bisa menatap lurus kearah pria tua berkemeja putih, air matanya tak dapat berhenti menetes. Sampai pada akhirnya jasad pria tua itu dibawa pergi, si pengemis kecil tetap tak bergeming, ia tetap menangis sesekali menahan isakannya.
Satu minggu berlalu pengemis kecil itu masih menggenggamku dan bersandar dikakiku yang dingin. Ia tak henti-hentinya becerita seolah-olah ia bercerita dengan si pria tua berkemeja putih. Ia bercerita tentang segala hal termasuk tentang mimpinya terkadang sampai ia tertidur.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti dengan tahun si pengemis kecil terus bertumbuh besar, ia tetap menjagaku seperti yang ia lakukan ketika bersama pria tua berkemeja putih. Namun ada yang berbeda, kini ia bukanlah pengemis lagi, impiannya terwujud. Apa yang ia ceritakan menjadi nyata. Terkadang ia menghabiskan satu malam bersandar dikakiku sambil bercerita. Aku tahu jauh diseberang jalan sana, pria tua berkemeja putih memperhatikannya dengan tatapan hangat sambil tersenyum.
Semenjak malam itu aku tak pernah lagi bertemu dengan pengemis kecil yang sudah berubah menjadi pria dewasa. Tak ada lagi yang merawatku, tak ada lagi cerita panjang, dan tak ada lagi genggaman sehangat itu. Hingga saat ini, hingga aku renta dan berbau pesing. Sudah 30 tahun berlalu, aku masih tetap menunggu kedatangannya.
Angin malam bertiup dengan kencang, suasana malam ini seperti kembali ke masa 35 tahun yang lalu, saat si pria tua tertidur dengan tenang dikakiku. Samar-samar bayangan itu mulai mendekatiku, aku bisa merasakan ada yang menyentuhku. Aku bisa mengenalinya, dia si pria tua berkemeja putih. Dia datang ! sejenak ia memperhatikanku dengan mata nanar dan sedih, sedih melihat keadaanku yang renta tidak terawat. Kemudian ia menggenggamku dan memperhatikan tombol yang berderet rapi. Memperhatikan setiap detail badanku yang usang.
Aku rasa dia sama denganku, merindukan kedatangan si pengemis kecil yang tiba-tiba pergi tak kembali.
Siang ini matahari begitu terik tetapi anginnya terasa sejuk, dari kejauhan terlihat seorang pria paruh baya menggandeng gadis kecil berkucir dua. Mereka membawa ember dan kain lap, datang menghampiriku. Si gadis kecil itu bertanya penuh heran kepada pria itu, untuk apa mereka membersihkan aku. Pria paruh baya itu mulai bercerita sambil membasuh badanku yang bau ini dan mengusapnya perlahan. Aku bisa mengenalinya, dia adalah si pengemis kecil yang aku rindukan.
Setelah mereka selesai, pengemis kecil yang sudah bertumbuh menjadi pria paruh baya itu mengajari gadis kecil berkucir dua menggenggamku. mereka mulai bercerita, tertawa dan bahagia. Angin semilir perlahan menerpaku membuat kertas yang tertempel di badanku berbunyi. Ternyata itu menarik perhatian gadis kecil berkucir dua, ia mengambilnya dan memberinya kepada si pria paruh baya.
Butiran airmata mulai bejatuhan di pipi pria itu, ia tersenyum sambil memeluk gadis berkucir dua. Rasa hangat perlahan menjalar lagi, aku tahu kisah ini akan mulai mengalun indah kembali. Walaupun aku hanya sebuah telepon koin tua yang tak berguna.
http://ceritanisaasin.blogspot.com/2013/03/kisah-si-telepon-koin.html?m=1
SELASA, 12 MARET 2013
