Desember 2019

Kisah Pengabdian di jalan spiritual

Sa'di menyajikan sebuah gambaran tentang pengabdian yang indah dalam syairnya 'Bustan', tentang Sultan Mahmud dan Ayaz, pelayan sultan. Sa'di kemudian mulai menuturkan kisah tentang bagaimana dalam sebuah prosesi kerajaan, seekor unta yang sarat membawa permata dan mutiara suatu ketika jatuh, menumpahkan seluruh batu berharga yang dibawanya itu.

Sultan Mahmud, yang memang bersifat dermawan, mengizinkan para pengikutnya untuk mengambil permata itu dan pergi. Semua pengikutnya menerobos barisan dan segera memperebutkan permata, dengan 'mengabaikan Sang Raja karena hartanya.' Hanya Ayaz yang bersikap acuh tak acuh terhadap permata itu dan tetap berada dibelakang Sang Raja. Ketika Mahmud melihatnya tengah mengikuti dia, dia berseru,
.
."Hai Ayaz, apa yang engkau peroleh dari perebutan itu?"
. Ayaz mengatakan, "Aku tidak mencari permata, namun mengikuti Rajaku, sebab bagaimana aku dapat menyibukkan diri dengan hadiahmu padahal cita-citaku adalah untuk mengabdi"🌹
.
Sa'di kemudian menyimpulkan :
Hai sahabat, jika engkau berada dekat dengan Singgasana, janganlah abaikan Raja karena permata-Nya, sebab dalam jalan ini, wali tak pernah meminta apapun dari Tuhan kecuali Dia.
Maka ketahuilah jika yang engkau cari hanyalah karunia Kekasih, engkau tetap terbelenggu didalam penjaramu, bukan penjara-Nya.😥

Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking
Oleh : Prof Agus Budiyono

Ada 3 hal ternyata tdk terlalu berpengaruh terhadap kesuksesan yaitu: NEM, IPK dan rangking. Saya mengarungi pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2 & S3)

Kemudian sy mengajar selama 15 tahun di universitas di 3 negara maju (AS, Korsel, Australia) dan juga di tanah air. Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas terhadap kesuksesan.

Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US

Hasil penelitiannya ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan rangking) hanyalah faktor sukses urutan ke 30. Sementara faktor IQ pada urutan ke-21. Dan bersekolah di universitas/sekolah favorit di urutan ke-23.

Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana: Anak anda nilai raport nya rendah Tidak masalah. NEM anak anda tidak begitu besar? Paling banter akibatnya tidak bisa masuk sekolah favorit. Yang menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh thdp kesuksesan.

Lalu apa faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu? Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

  1. Kejujuran (Being honest with all people)
  2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
  3. Mudah bergaul (Getting along with people)
  4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
  5. Kerja keras (Working harder than most people)
  6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving career/business)
  7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
  8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
  9. Hidup teratur (Being very well-organized)
  10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK. Dalam kurikulum semua ini kita kategorikan softskill. Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler. Mengejar kecerdasan akademik semata hanya akan menjerumuskan diri. Ini yg jd dasar Menpen menghilangkan UN tahun 2021.

Anak2 tumbuh kembang dan berhasil sukses
Jika ada keseimbangan antara

IQ Intelegence Quotient...( bawaan lahir)

EQ Emotional Quotient
( pendidikan dan dari pergaulan) bgmn cara kita manusia bs mengontrol Emosi

SQ Spiritual Quotient
( Dipelajari dari Agama)

Semoga kita bisa mengantar anak cucu kita menjadi Manusia yg sukses hidupnya didunia dan di akhirat)



Literasi Army🌸
------------------------------------------------------------------
"Jadilah yang pertama untuk mendapatkan  promo dari kami"
------------------------------------------------------------------
Judul Buku : Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah
Penulis: Munita Yeni
Penerbit: Psikologi Corner
Kondisi : Original, Baru & Segel
Harga Pasar : Rp55.000
Harga di @official.literasiku : Rp45.000 (lebih hemat Rp10.000)
------------------------------------------------------------------
Sinopsis

Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintaii dirinya sendiri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?

Penelitian di Carnegei Mellon University mengatakan bahwa rasa cinta menghasilkan emosi yang positif, hal ini mendorong sistem kekebalan tubuh orang tersebut menjadi lebih sehat. Berawal dengan menerima dan menemukan perasaan cinta kita terhadap diri kita sendiri, tentunya akan membawa kita jauh lebih bersyukur dan meminimalkan risiko stress atau gangguan penyimpangan perasaan sehingga kita akan menemukan cinta dan memiliki cinta. Namun mencintai diri sendiri mempunyai ‘seni’nya tersendiri, karena pada hakikatnya mencintai diri bukanlah mengagumi diri sendiri yang berlebihan dan menimbulkan sifat Narsistic.
------------------------------------------------------------------
Referensi : Google

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget