2019

Kisah Pengabdian di jalan spiritual

Sa'di menyajikan sebuah gambaran tentang pengabdian yang indah dalam syairnya 'Bustan', tentang Sultan Mahmud dan Ayaz, pelayan sultan. Sa'di kemudian mulai menuturkan kisah tentang bagaimana dalam sebuah prosesi kerajaan, seekor unta yang sarat membawa permata dan mutiara suatu ketika jatuh, menumpahkan seluruh batu berharga yang dibawanya itu.

Sultan Mahmud, yang memang bersifat dermawan, mengizinkan para pengikutnya untuk mengambil permata itu dan pergi. Semua pengikutnya menerobos barisan dan segera memperebutkan permata, dengan 'mengabaikan Sang Raja karena hartanya.' Hanya Ayaz yang bersikap acuh tak acuh terhadap permata itu dan tetap berada dibelakang Sang Raja. Ketika Mahmud melihatnya tengah mengikuti dia, dia berseru,
.
."Hai Ayaz, apa yang engkau peroleh dari perebutan itu?"
. Ayaz mengatakan, "Aku tidak mencari permata, namun mengikuti Rajaku, sebab bagaimana aku dapat menyibukkan diri dengan hadiahmu padahal cita-citaku adalah untuk mengabdi"🌹
.
Sa'di kemudian menyimpulkan :
Hai sahabat, jika engkau berada dekat dengan Singgasana, janganlah abaikan Raja karena permata-Nya, sebab dalam jalan ini, wali tak pernah meminta apapun dari Tuhan kecuali Dia.
Maka ketahuilah jika yang engkau cari hanyalah karunia Kekasih, engkau tetap terbelenggu didalam penjaramu, bukan penjara-Nya.😥

Mematahkan Mitos NEM, IPK dan Rangking
Oleh : Prof Agus Budiyono

Ada 3 hal ternyata tdk terlalu berpengaruh terhadap kesuksesan yaitu: NEM, IPK dan rangking. Saya mengarungi pendidikan selama 22 tahun (1 tahun TK, 6 tahun SD, 6 tahun SMP-SMA, 4 tahun S1, 5 tahun S2 & S3)

Kemudian sy mengajar selama 15 tahun di universitas di 3 negara maju (AS, Korsel, Australia) dan juga di tanah air. Saya menjadi saksi betapa tidak relevannya ketiga konsep di atas terhadap kesuksesan.

Ternyata sinyalemen saya ini didukung oleh riset yang dilakukan oleh Thomas J. Stanley yang memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survey terhadap 733 millioner di US

Hasil penelitiannya ternyata nilai yang baik (yakni NEM, IPK dan rangking) hanyalah faktor sukses urutan ke 30. Sementara faktor IQ pada urutan ke-21. Dan bersekolah di universitas/sekolah favorit di urutan ke-23.

Jadi saya ingin mengatakan secara sederhana: Anak anda nilai raport nya rendah Tidak masalah. NEM anak anda tidak begitu besar? Paling banter akibatnya tidak bisa masuk sekolah favorit. Yang menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh thdp kesuksesan.

Lalu apa faktor yang menentukan kesuksesan seseorang itu? Menurut riset Stanley berikut ini adalah sepuluh faktor teratas yang akan mempengaruhi kesuksesan:

  1. Kejujuran (Being honest with all people)
  2. Disiplin keras (Being well-disciplined)
  3. Mudah bergaul (Getting along with people)
  4. Dukungan pendamping (Having a supportive spouse)
  5. Kerja keras (Working harder than most people)
  6. Kecintaan pada yang dikerjakan (Loving career/business)
  7. Kepemimpinan (Having strong leadership qualities)
  8. Kepribadian kompetitif (Having a very competitive spirit/personality)
  9. Hidup teratur (Being very well-organized)
  10. Kemampuan menjual ide (Having an ability to sell my ideas/products)

Hampir kesemua faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK. Dalam kurikulum semua ini kita kategorikan softskill. Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler. Mengejar kecerdasan akademik semata hanya akan menjerumuskan diri. Ini yg jd dasar Menpen menghilangkan UN tahun 2021.

Anak2 tumbuh kembang dan berhasil sukses
Jika ada keseimbangan antara

IQ Intelegence Quotient...( bawaan lahir)

EQ Emotional Quotient
( pendidikan dan dari pergaulan) bgmn cara kita manusia bs mengontrol Emosi

SQ Spiritual Quotient
( Dipelajari dari Agama)

Semoga kita bisa mengantar anak cucu kita menjadi Manusia yg sukses hidupnya didunia dan di akhirat)



Literasi Army🌸
------------------------------------------------------------------
"Jadilah yang pertama untuk mendapatkan  promo dari kami"
------------------------------------------------------------------
Judul Buku : Baca Buku Ini Saat Engkau Lelah
Penulis: Munita Yeni
Penerbit: Psikologi Corner
Kondisi : Original, Baru & Segel
Harga Pasar : Rp55.000
Harga di @official.literasiku : Rp45.000 (lebih hemat Rp10.000)
------------------------------------------------------------------
Sinopsis

Terkadang kita terlalu sibuk mencintai ini dan itu bahkan sampai kita lupa untuk mencintai diri sendiri, dan itu sungguh melelahkan. Mengapa manusia mulai lupa bagaimana cara untuk mencintaii dirinya sendiri? Bukankah sangat melelahkan ketika kalian ditinggalkan seseorang? Jika diri kalian sendiri yang meninggalkan dirimu, betapa sunyinya?

Penelitian di Carnegei Mellon University mengatakan bahwa rasa cinta menghasilkan emosi yang positif, hal ini mendorong sistem kekebalan tubuh orang tersebut menjadi lebih sehat. Berawal dengan menerima dan menemukan perasaan cinta kita terhadap diri kita sendiri, tentunya akan membawa kita jauh lebih bersyukur dan meminimalkan risiko stress atau gangguan penyimpangan perasaan sehingga kita akan menemukan cinta dan memiliki cinta. Namun mencintai diri sendiri mempunyai ‘seni’nya tersendiri, karena pada hakikatnya mencintai diri bukanlah mengagumi diri sendiri yang berlebihan dan menimbulkan sifat Narsistic.
------------------------------------------------------------------
Referensi : Google

Jendela Sufi
*********
Alkisah, seorang pria yang baru pulang ke rumahnya dikejutkan oleh suara tangisan istrinya. Ditanyakan sebabnya, istri menjawab, "burung-burung di atas pohon itu sering melihatku tanpa hijab dari jendela. Aku takut ini dihitung sebagai maksiat".

Mendengar jawaban itu, sang suami terenyuh oleh ketaatan istrinya. Dia cium kening sang istri salehah lalu keluar kamar. Dengan sigap dia ambil kapak lalu dia tebang pohon besar di pekarangannya.

Seminggu setelah itu dia pulang lebih awal. Betapa kagetnya dia mendapati istrinya tidur dengan laki-laki lain. Hancur hati sang suami. Dia ambil barang-barang seperlunya lalu pergi sejauh mungkin dari kotanya.

Sampailah dia di suatu kota. Terlihat khalayak ramai berkumpul di depan istana kerajaan. Dia bertanya kepada salah satu orang di situ. Jawabnya, "harta kerajaan kemalingan".

Tidak jauh dari keramaian itu ada seorang kakek bersurban dan berjubah jalan berjinjit. Hal itu menarik perhatiannya. Dia bertanya lagi kepada orang di situ, "mengapa kakek itu berjalan seperti itu?". Orang di situ menjawab, "beliau itu syeikh kota ini. Beliau selalu berjalan seperti itu agar jangan sampai menginjak semut atau satwa apapun di bawah kakinya". Mendengar jawaban itu, sang pria meminta agar segera dihadapkan kepada raja. "Aku sudah menemukan pencurinya", kata sang pria.

Di hadapan raja pria itu bilang, "syeikh itulah pencuri harta kerajaanmu". Syeikh pun dipanggil. Setelah terjadi penyelidikan dan persidangan, akhirnya syeikh mengakui perbuatannya. Syeikh pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Raja berterima kasih kepada sang pria. Kemudian raja bertanya, "bagaimana kau bisa tahu bahwa syeikh pencurinya?". Sang pria berkata, "pengalaman hidup telah mengajariku bahwa orang yang berlebih-lebihan dalam menampakkan kesalehan, pasti dia sedang menutupi keburukannya".

____________________
Terjemah: Ammar Abdillah
Jendela Suffi.




Image : https://images.app.goo.gl/MkbNEuMjpveJYD8u6

*Sebelum nyoblos besok.... Silahkan di hapalkan dulu do'a nya....*
Baca doa-doa berikut Ini agar mendapat pemimpin yang terbaik

Pemimpin

adalah komponen yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Jika tidak ada pemimpin, maka kehidupan tidak akan teratur dan orang akan semaunya saja dalam bertindak. Dalam islam pemimpin dan perannya sangat diperhatikan. Bahkan doa terbaik sudah selayaknya ditujukan kepada pemimpin, tidak sedikit negeri yang makmur dan sejahtera karena diberikan anugrah pemimpin yang baik serta memiliki agama yang kuat

Seorang Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata,
لو أن لي دعوة مستجابة ما صيرتها إلا في الإمام قيل له: وكيف ذلك يا أبا علي؟ قال: متى ما صيرتها في نفسي لم تجزني ومتى صيرتها في الإمام فصلاح الإمام صلاح العباد والبلاد
“Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”
Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa demikian?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.”[1]

*Doa pertama*

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء
(Allahumma inni a’udzubika min imratisshibyan was sufaha’)
“Yaa Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.”[2]

*Doa kedua*

اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِيْنَا وَلَا يَرْحَمُنَا
(Allahumma laa tusallith ‘alainaa bidzunubinaa man laa yakhafuka fiinaa wa laa yarhamunaa)
“Yaa Allah -dikarenakan dosa-dosa kami- janganlah Engkau kuasakan (beri pemimpin) orang-orang yang tidak takut kepada-Mu atas kami dan tidak pula bersikap rahmah kepada kami.”

*Doa ketiga*

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ
“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Demikian semoga bermanfaat

@Gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta Tercinta
Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

_*Silahkan disebar Artikel ini semoga bermanfaat bagi sesama dengan tidak menambah dan mengurangi isi tulisan*_
•••┈••••○❁❁○••••┈••••••┈••••○❁❁○••••┈•••

Cerpen Orang Yang Selalu Cuci Tangan

oleh Seno Gumira Ajidarma



Semua orang di kantornya sudah tahu, ia selalu mencuci tangannya. Banyak orang juga selalu mencuci tangan, tetapi tidak sesering dirinya. Belum pernah ada yang menghitung, berapa kali ia mencuci tangannya dalam sehari, tetapi dapat dipastikan sering sekali. Kalau ada orang yang menyebut namanya, yang diingat setiap orang adalah, “Oh, yang selalu cuci tangan itu ya?”, dan akan selalu ditanggapi kembali dengan, “Nah! Iya, yang selalu cuci tangan!”Demikianlah ia kemudian dikenal sebagai Orang yang Selalu Cuci Tangan.

Tentu ia sendiri tidak tahu jika dirinya mendapat julukan seperti itu, ia hanya tahu dirinya selalu merasa tangannya kotor, dan setiap kali ia merasa tangannya kotor ia selalu merasa harus cuci tangan di wastafel. Tentu saja tak jarang tangannya itu memang kotor, meskipun baginya setitik debu yang tak terlihat pun agaknya sudah sahih menyandang istilah kotoran, sehingga ia pun akan selalu terlihat berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Kadang baru duduk sebentar ia segera sudah berdiri lagi, menuju wastafel untuk mencuci tangan yang dirasanya amat sangat kotor, begitu kotor, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih kotor.

Orang yang Selalu Cuci Tangan Tentunya bisa diterima betapa setiap tangan yang kotor memang sebaiknya, lebih baik, memang seharusnya, bahkan wajib dicuci, tapi bagaimana kalau sebetulnya bersih? “Barangkali ia sebetulnya hanya selalu merasa tangannya kotor.”
“Merasa?”

“Ya, tangannya itu sendiri sebetulnya bersih, tapi ia selalu merasa tangannya kotor.”
“Makanya ia selalu mencuci tangannya!”
Demikianlah orang-orang di kantornya bergunjing tentang atasannya tersebut, yang selalu mereka lihat sedang mencuci tangan di wastafel ketika mereka memasuki ruangannya.

Di depan wastafel ia mencuci tangan, pada saat mengangkat muka, ia melihat wajahnya sendiri. “Wajah itulah,” pikirnya, “wajah itulah!” Wajah yang selalu muncul di koran dan televisi, wajah yang selalu dijaganya agar selalu tampak terhormat, amat sangat terhormat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih terhormat. Demi kehormatan wajah itulah ia telah selalu mencuci tangannya, karena dalam pikirannya, tangan yang kotor akan mempengaruhi pandangan orang banyak terhadap wajahnya.

“Mengapa tanganku selalu kotor?” Ia sendiri tak tahu sejak kapan mulai mencuci tangannya terus. Banyak orang mengira ia hanya merasa tangannya kotor, tetapi dalam pandangannya tangannya memang betul-betul kotor.

Mula-mula hanya seperti sedikit berdebu, tetapi lama-lama seperti berlumur lumpur. “Apakah ini karena aku selalu melakukan pekerjaan kotor?” Ia ingin sekali percaya, bahwa dirinya sebetulnya hanya merasa tangannya kotor, bukan betul-betul kotor. Ia sendiri meragukan, manakah yang sebetulnya lebih baik, antara selalu mencuci tangan karena merasa tangannya selalu kotor dibandingkan dengan selalu mencuci tangan karena tangannya betul-betul kotor. Namun ia sungguh-sungguh ingin percaya, meskipun ia selalu melihat tangannya betul-betul kotor, betapa tangannya itu sendiri sebetulnya bersih.Sementara itu, ia masih terus melakukan pekerjaan kotor. Mulai dari yang betul-betul kotor, sampai yang seolah-olah tidak kotor.

Pada suatu hari, ketika ia mencuci tangan di wastafel, air yang mengucur dari kran dalam pandangan matanya agak kecoklat-coklatan. “Ah, kenapa airnya kotor sekali?” Untuk seorang manusia yang selalu mencuci tangan, air kran yang kotor adalah masalah besar. “Mencuci tangan kok jadi tambah kotor,” pikirnya, “mana boleh jadi?” Segeralah para tukang dipanggil untuk memeriksa, apakah kiranya yang membuat air pencuci tangan yang seharusnya membuat tangan menjadi bersih kini justru membuat tangan semakin kotor.Namun ketika dikucurkan, ternyata air kran itu baik-baik saja adanya.

“Airnya tidak apa-apa Pak,” ujar para tukang.
Kini ia khawatir, adalah matanya yang justru bermasalah.Betapapun ia bersyukur, selama ini ternyata hanya perasaannya sajalah yang membuat ia mengira tangannya selalu kotor, yang membuatnya selalu merasa harus mencuci tangan, meskipun tangannya itu sama sekali tidak kotor.

Air kran yang mengucur di wastafel itu semakin lama semakin bertambah kotor. Semula memang hanya kecoklat-coklatan, tetapi akhirnya menjadi kehitam-hitaman, bahkan kemudian juga berlumpur dan berbau busuk agak kekuning-kuningan, yang ketika airnya mengucur memperdengarkan suara seperti orang berdahak.
Grrrrhhhhhuuekkkhhhh……..

Rasanya ia mau muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari perutnya. Ia berjuang keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terlihat, terdengar, dan terbaui olehnya itu, sebetulnya hanyalah sesuatu yang hanya dirasakannya sahaja.Maka ia pun tetap mencuci tangannya dengan air terkotor di dunia yang mengucur dari kran itu. Tidak cukup hanya mencuci tangan, ia juga menggunakannya untuk cuci muka, membasuh wajahnya begitu rupa sehingga ia merasa dirinya bersih suci murni tanpa dosa dan antihama.

Suatu kali, ketika pekerjaan kotornya menumpahkan darah, kran itu pun mengucurkan darah. Namun ia tetap yakin dan percaya bahwa yang dilihatnya adalah air kran biasa. Ia tidak ingin lagi-lagi memanggil tukang dan lagi-lagi akan menerima tatapan mata yang memandangnya dengan aneh karena, “Airnya tidak apa-apa Pak!” Ia mencuci tangannya dengan darah yang mengucur dari kran itu dengan perasaan mencuci tangan sebersih-bersihnya. Lantas ia mencuci muka, tempat segala kehormatannya dipertaruhkan, dengan darah yang mengucur dari kran itu juga.

Sebelum keluar ruangan, ia menatap wajahnya pada cermin dan ia melihat wajahnya itu bersimbah darah. Ia merasa tahu benar, perasaannya sajalah yang membuat ia melihat wajahnya penuh dengan darah.

Begitulah, ia pun keluar ruangan dengan perasaan betapa tangan, wajah, dan bahkan jiwanya telah menjadi sangat bersih, begitu bersih, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih bersih. Semua orang terbelalak!

Rujukan: [1] Disalin dari Karya Seno Gumira Ajidarma
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas”

PADAMU JUA

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kendi kemerlap
Pelita jendela dimalam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia, selalu
Satu kasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa darah dibalik tirai
Kasihku sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu—bukan giliranku
Mati hari—bukan kawanku

~ Amir Hamzah

Nasehat-Nasehat Kecil Orang Tua
Pada Anaknya Berangkat Dewasa

Jika adalah yang harus kaulakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan
Ialah hanya Rasul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Ilahi.
--Taufik Ismail

Kerendahan Hati
Oleh:Taufiq Ismail
 
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
jadilah saja belukar
tetapi belukar yang tumbuh di tepi danau
Kalau engkau tak sanggup jadi belukar
jadilah saja rumput
tetapi rumput yang memperkuat jalan
Kalau engkau tak jadi jalan raya
jadilah saja jalan kecil
tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidak semua orang menjadi kapten
tentu ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya dirimu
tetapi amalan dan perbuatanmu
oleh karena itu

Jadilah saja dirimu
Sebaik-baik dari dirimu sendiri
Pesan: Tak perlu menjadi seseorang yang besar ketika kita yang kecil dapat lebih bermanfaat, tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi berguna ketika menjadi sendiri lebih berguna
sumber: adefisika.wordpress.com

Hikayat Anggun Cik Tunggal
 
Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta dalam ilmu agamanya.
Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Di gelanggang Nan Tongga berhasil mengalahkan Nangkodo Baha pada tiap permainan: menyabung ayam, menembak maupun catur. Berang dan malu karena kekalahannya Nangkodoh Baha mengejek Nan Tongga karena membiarkan ketiga mamaknya ditawan bajak laut di pulau Binuang Sati. Mendengar kabar ini Nan Tongga pulang dengan hati sedih.

Nan Tongga bertekad untuk merantau mencari mamak-mamaknya: Mangkudun Sati, Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Sebelum pergi ia minta izin pada Mandeh Suto Suri dan tunangannya Puti Gondan Gondoriah. Gondoriah meminta Nan Tongga membawakannya benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa di antaranya adalah seekor burung nuri yang bisa berbicara, beruk yang pandai bermain kecapi, kain cindai yang ‘tak basah oleh air, berjambul suto kuning, dikembang selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur burung’.
Nan Tongga berangkat berlayar dengan kapal bernama Dandang Panjang, ditemani pembantu setianya Bujang Salamat. Nakhodanya bernama Malin Cik Ameh. Setelah berlayar beberapa lama akhirnya mereka sampai di pulau Binuang Sati. Nan Tongga menyuruh kapal berlabuh di sana. Utusan Palimo Bajau, raja Pulau Binuang Sati, datang untuk mengusir Nan Tongga, namun ia menolak. Dalam pertempuran yang pecah kemudian Bujang Salamat berhasil membunuh Palimo Bajau. Pulau Binuang Sati pun takluk.

Nan Tongga menemukan salah seorang mamaknya, Nangkodoh Rajo, dikurung dalam kandang babi. Nangkodoh Rajo menceritakan bahwa kedua mamak Nan Tongga lainnya, Katik Intan dan Makhudum Sati berhasil meloloskan diri ketika pertempuran di laut dengan lanun anak buah Palimo Bajau. Ia juga memberitahukan bahwa burung nuri yang pandai berbicara ada di Kuala Koto Tanau.
Kemudian Nan Tongga menyuruh Malin Cik Ameh pulang ke Pariaman menggunakan kapal rampasan dari Binuang Sati, dan memberi pesan ke kampung halaman bahwa Nangkodoh Rajo sudah dibebaskan. Ia sendiri berlayar dengan Dandang Panjang bersama Bujang Salamat ke Koto Tanau. Namun ketika bertemu Gondan Gondoriah ia terpesona pada kecantikan tunangan Nan Tongga itu. Ia lalu bercerita bahwa Nan Tongga ditawan oleh Palimo Bajau. Ia juga berkata Nan Tongga berpesan Malin Cik Ameh dijadikan pemimpin di kampungnya. Malin Cok Ameh lalu dirajakan di sana. Ia mengirim utusan untuk meminang Gondan Gondoriah namun ditolak dengan alasan masih berduka atas tertangkapnya Nan Tongga.

Sementara itu di Koto Tanau Anggun Nan Tongga menemukan pamannya yang lain menjadi raja di sana. Putri pamannya Puti Andami Sutan memiliki seekor burung nuri yang pandai berbicara. Nan Tongga lalu mencoba meminta burung tersebut. Dengan halus Andami Sutan mengisyaratkan Nan Tongga hanya dapat mendapatkan burung nuri ajaib tersebut dengan mengawini dirinya. Tak dapat menemukan cara lain Nan Tongga pun menikahi putri tersebut.
Burung nuri ajaib itu kemudian lepas dari sangkarnya dan terbang ke Tiku Pariaman. Di sana ia menemui Puti Gondan Gondoriah yang gundah mendengar tunangannya menikah dengan Andami Sutan.

Nan Tongga tidak dapat menahan rindunya pada kampung halaman dan tunangannya. Ia meninggalkan istrinya Andami Sutan yang sedamg hamil. Ketika Gondan Gondoriah mendengar kabar bahwa Anggun Nan Tongga sudah pulang ia lari ke Gunung Ledang. Anggun Nan Tongga kemudian mengejar dan membujuknya untuk pulang. Gondoriah akhirnya luluh hatinya dan kembali bersama Nan Tongga.

Ketika hendak menikah Nan Tongga dan Gondan Gondoriah bersama Bujang Selamat pergi mencari Tuanku Haji Mudo untuk meminta restu. Namun Tuanku Haji Mudo berkata bahwa Nan Tongga dan Gondan Gondoriah adalah saudara sepersusuan, karena Nan Tongga pernah menyusu pada ibu Gondan Gondoriah. Menurut hukum Islam berarti Nan Tongga dan Gondan Gondoriah tidak boleh menikah di dunia ini dan hanya dapat berjodoh di akhirat.

Karena belum juga pulang orang tua Nan Tongga dan Gondan Gondoriah mengirim orang untuk mencari Nan Tongga dan Gondan Gondoriah. Mereka menemukan Bujang Selamat sendiri yang berkata bahwa Nan Tongga, Gondan Gondoriah, dan Tuanku Haji Mudo sudah naik ke langit.

Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)



Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya.
“Mbah,” kata sang cucu. “Beli ini saja.”
“Apa itu?”
“Smartphone model terbaru.”
“Ahhh enggak mau. Handphone yang Mbah beli sepuluh tahun lalu masih bisa dipakai, kenapa harus beli yang baru.”
Tetapi tiba-tiba, ponsel Tohari berbunyi, langsung yang berbicara Pak Menteri. “Maaf Pak Tohari, hadiahnya dicabut. Tolong, ini hanya mimpi saya. Lebih baik besok malam Pak Tohari mimpi saja sendiri. Hadiahnya mungkin Rp 1 miliar.”

"Tapi Pak, kalau Rp 1 miliar, saya enggak mau mimpi sendiri. Lebih baik saya mengajak teman-teman saya bermimpi bersama. Banyak tuh yang pengen bisa mimpi dapat Rp 1 miliar. Di antaranya teman-teman penulis cerpen tua seperti saya ini. Putu Wijaya, Budi Darma, atau Seno Gumira Ajidarma. Eh tapi Seno sering kali terlalu banyak improvisasi kalau diajak bermimpi. Lebih baik lagi saya mengajak teman-teman penulis muda untuk bermimpi bersama. Mereka kreatif-kreatif lho Pak kalau diajak mimpi. Kayak itu tuh, Ni Komang Ariani, Iqbal, Guntur, Oddang, Miranda, mereka pinter-pinter lho kalau ngimpi.”

“Silakan saja Pak Tohari. Mau mimpi sendiri atau ngajak teman-teman. Yang penting Bapak sudah cukup jelas kan bahwa hadiahnya sudah dicabut? Coba susun dulu proposal mimpi Rp 1 miliar Pak Tohari, nanti ajukan saja ke saya. Nanti saya kasih kontak nomornya Dirjen saya, si Hilmar itu. Biar nanti dia baca dulu proposal Rp 1 miliar Pak Tohari,” ujar Pak Menteri.

Tohari terdiam sejenak. Ia mencoba menafsir makna di balik perkataan Pak Menteri yang sebenarnya sudah sangat terang benderang itu.
“Maaf Pak Menteri, apakah saya boleh bertanya?”
“Silakan, Pak Tohari.”
“Apakah Bapak bisa mengendalikan mimpi?”
“Mengapa tidak?”
“Bapak pernah mengendalikan mimpi?”
“Berkali-kali.”

“Wah, sungguh elok. Jadi bisa ya, saya meminta diri saya mimpi mendapat Rp 100 juta lalu saya minta sembilan pengarang lain mimpi mendapat Rp 100 juta? Bisa jugakah dalam mimpi itu saya meminta sembilan pengarang lain memberikan uang mereka untuk saya? Lalu, jika sudah terkumpul, bisakah saya meminta diri saya sendiri memberikan uang itu untuk guru-guru miskin di seluruh Tanah Air?”
“Bisa. Mengapa tidak?”
“Kok Bapak begitu yakin?”
“Saya telah melakukan berkali-kali, Pak Tohari.”
Tohari takjub.

“Boleh bertanya lagi Pak Menteri?”
“Silakan, Pak Tohari.”
“Bagaimana cara mengendalikan mimpi itu?”
“Pak Tohari harus tidur tepat pukul 00.13.”
Tohari tak bertanya mengapa harus pukul 00.13. Ia justru menanyakan posisi tidur.
“Kepala harus mengarah ke selatan atau timur?”
“Ke utara, Pak Tohari. Sebelum tidur, bersama sembilan pengarang, Pak Tohari harus membayangkan mendapat uang masing-masing Rp 100 juta bukan dari saya, melainkan dari Pak Jokowi. Pak Jokowi pasti tergerak memberikan uang itu. Hanya, Pak Tohari dan sembilan pengarang, tidak boleh ragu-ragu dalam bermimpi. Paham, Pak Tohari?”
“Paham, Pak Menteri.”

Tohari memang paham pada setiap perkataan Pak Menteri. Akan tetapi, begitu suara Pak Menteri dari seberang menghilang, ia sedikit meragukan metode pengendalian mimpi yang tak masuk akal.
“Mimpi selalu tidak masuk akal,” Tohari membatin, “Karena itu, haruskah aku memercayai metode mimpi Pak Menteri?”
Sunyi. Tohari merasa tak bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Karena itulah, ia perlu menelepon beberapa pengarang.
Mula-mula ia menelepon Triyanto Triwikromo.
“Apakah Anda pernah mengendalikan mimpi?”
“Belum pernah, Pak Tohari, tetapi saya pernah mengendalikan cerita. Cerita apa pun bisa saya kendalikan sesuai keinginan suksma.”

Ia juga bertanya pada Seno. Seno menggeleng. “Saya hanya mahir mengendalikan senja, Pak Tohari. Sesekali saya mengendalikan Tuhan untuk memenuhi doa-doa saya.”
Ia juga bertanya pada Joko Pinurbo. Joko Pinurbo tertawa, “Saya hanya bisa mengendalikan sarung dan celana saya. Celana dan sarung saya jika tidak dikendalikan suka berkibar ke mana-mana, Pak Tohari.”
Tohari juga bertanya kepada cerpenis baru tapi senior Warih Wisatsana. Ia hanya mendapatkan jawaban, “Kalau mau kendalikan mimpi, jadilah ikan terbang dulu…,” kata Warih

Tak putus asa, Tohari bertanya kepada pengarang lain mengenai teknik mengendalikan mimpi. Kali ini kepada Budi Darma. Budi Darma juga tertawa, “Satu-satunya sosok yang pernah saya kendalikan bernama Olenka. Justru Olenkalah yang bisa mengendalikan mimpi. Coba nanti saya tanyakan kepada dia.”
“Jangan-jangan saya juga bisa bertanya kepada Srintil atau Rasus, ya Pak Budi?”
“Mungkin saja, Mas Tohari. Mungkin saja. Sampeyan tahu di mana harus menghubungi Rasus atau Srintil bukan?”

Tohari mengangguk namun tidak segera melakukan saran Budi Darma. Tohari kemudian berjalan ke arah jendela. Ia menatap gerimis.
“Masih gerimis air. Bukan gerimis yang telah jadi logam,” Tohari bergumam sambil mengingat Goenawan Mohamad, penyair yang menulis “Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam”.

Masih gerimis yang biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang lebih tabah dari hujan bulan Juni,“ Tohari mendesis sambil mengingat Sapardi Djoko Damono, penyair “Hujan Bulan Juni”.
Tohari terus menikmati gerimis itu. Ia tidak ingin menghubungi Srintil. Ia tidak ingin menghubungi Rasus. Ia justru menelepon Putu Wijaya.
“Bli Putu, apakah Anda bisa mengendalikan mimpi?”
“Bisa. Apa pun bisa saya kendalikan.”
“Bisa bermimpi bertemu dengan Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lalu mengajak beliau menemui Pak Jokowi?”
“Bisa.”
“Bisa meminta Pak Jokowi memberi uang kepada 10 pengarang masing-masing Rp 100 juta?”
“Bisa.”
“Bisa meminta para pengarang memberikan uang itu kepada guru-guru miskin?”
“Bisa.”
“Caranya?”
Tak ada jawaban dari seberang.
“Caranya?”
Masih tak ada jawaban.

“Bli Putu? Ada apa? Bli Putu masih mendengarkan suara saya?”
Tetap tak ada jawaban.
“Halo, Bli? Masih mendengar suara saya?”
“Ya, masih Pak Tohari. Caranya kita harus puasa 40 hari dulu di gua yang paling gelap. Setelah itu puasa 40 hari lagi di gedung paling tinggi. Terakhir kita harus puasa 40 hari lagi di tepi sungai paling kotor.”
“Kok terlalu sulit. Ada cara yang gampang?”
“Ya, memang sulit, Pak Tohari, tetapi saya jamin kita akan bisa mengendalikan mimpi kalau sudah bisa melampaui semua itu.”
“Bli Putu mendapatkan metode itu dari mana?”
“Ya, dari mimpi, Pak Tohari. Sekarang tidur dan bermimpilah agar Pak Tohari mendapatkan metode mengendalikan mimpi! Saya doakan Pak Tohari berhasil. Pak Tohari orang baik. Alam pasti menolong Anda.”

Tohari terdiam. Ia pun bersiap-siap tidur. Di sana ia bertemu dengan semua orang yang dipikirkannya. Pak Menteri yang senyumnya semanis gula. Pak Jokowi yang matanya memantulkan sungai yang berwarna kecoklatan. Dan semua pengarang-pengarang yang ditemuinya itu. Mereka seperti menghadiri sebuah pesta dengan sajian makanan yang serba lezat. Mulai dari kambing guling, sate maranggi, ayam panggang, sampai dengan kue tart kecil rasa cokelat dan karamel.

Tohari tidak ingat kapan pesta itu berakhir, yang jelas ia terbangun dengan badan pegal luar biasa. Seperti sehabis mencangkul sawah sehari penuh. Pintu kamar terbuka sebagian, sementara Tohari hanya tergeletak tanpa daya. Tak kuasa menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.

Di luar sana, halaman rumahnya terlihat jorok dengan tumpukan daun berserakan, yang tak sempat dibersihkan. Namun, kali ini daun-daun berserakan itu terlihat berbeda. Warnanya merah terang dan ada dua foto dua orang yang sangat dikenalnya. Dua laki-laki tampan mengenakan kopiah, yang ia kenal betul, namun ujung lidahnya gagal menyebutkan nama kedua orang itu.
Istrinya sudah berulang kali ngomel.

“Tuh lihat rumah tanpa aku. Dari dulu kamu terlalu sibuk berpesta. Sibuk tertawa-tawa seperti pejabat-pejabat itu. Sibuk mencecap kue tart rasa karamel. Lupa pada bibirmu yang hitam dan keriput itu.”

Tohari mengerang keras setelah kembali gagal bangkit dari tempat tidur. Daun-daun gugur makin menumpuk, seperti membentuk gundukan di hadapannya.

Tohari memejamkan mata mengingat-ingat ucapan Pak Menteri. Sedikit-sedikit mulai dipercayainya ucapan laki-laki itu. Karena ia pernah mengetahui seseorang melakukan hal yang sama persis. Teman dari temannya. Namanya Leonardo. Laki-laki itu berwajah kaukasia. Hidungnya mancung dan kulitnya putih seperti daging durian yang sudah dikupas.

Leonardo menjalankan sebuah misi rahasia dengan bermimpi kolektif bersama teman-temannya. Apa misi rahasianya? Jelas Tohari tidak tahu. Namanya juga rahasia. Ia tersenyum-senyum sendiri. Tohari mengernyit kesakitan, merasakan tarikan tajam di kedua pipinya yang mengeras.

Bukan saja badannya yang makin mengeras, ternyata urat-urat wajahnya seperti sudah disemen. Tohari memejamkan mata untuk memusatkan pikiran. Agar ia bisa memahami apa yang sungguh terjadi, ketika sekonyong-konyong, seorang laki-laki, yang ia ketahui bernama Eden berbisik di telinganya. “Aku bisa menolongmu. Aku bisa mengajarimu melakukan apa yang dilakukan oleh Leonardo dan kawan-kawannya.” Suaranya serak dan dalam seperti suara Hannibal Lecter.

Tohari tercengang. “Aku bisa mengajak sembilan orang lainnya untuk bermimpi secara bersamaan?” Eden mengangguk yakin. “Namun, kesempatanmu hanya sekali. Dalam kesempatanmu yang sekali itu, ada dua peluang. Peluang berhasil lima puluh persen, peluang gagal lima puluh persen. Jika berhasil, mimpi 1 miliarmu akan terkabul, jika gagal, kesepuluh dari kalian akan terjebak di dalam dunia karangan kalian masing-masing.” Katanya dengan suara yang makin serak seperti tercekik.
“Hah…! Apa maksudnya?”

“Ingat-ingatlah cerpen yang pernah kamu tulis. Seingatku terakhir kau menulis tentang seorang anak yang ingin mengencingi Jakarta. Nah, jika gagal, kau akan hidup di dunia anak-anak yang kau kisahkan itu.”

Tohari merinding. Deru kereta api yang menggetarkan dan suara klaksonnya yang menjerit-jerit, menyerbu ke gendang telinganya. Bau makanan sisa bercampur bau bacin menggulung seperti tornado di depan cuping hidungnya. Kawanan lalat meriung riang merayakan kecepatan tubuhnya yang menumpang bokong kereta yang beroma tak sedap. Debu dan sampah-sampah kecil beterbangan membuat kelilipan.

Anginnya berpusing ke segala penjuru dan menerbangkan gundukan daun berwarna merah terang di halaman. Dua laki-laki berkopiah dan berwajah tampan tersenyum dengan manisnya. Sekilas senyumnya mirip senyum Pak Menteri. Di titik batas alam sadarnya, Tohari melenguh kecil. Aku mau tersenyum dan tertawa. Langit menggelap dan titik embun membasahi kening Tohari yang keriput. Laki-laki itu terkekeh-kekeh geli.

Catatan:
Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani, dimulai saat Malam Jamuan Cerpen Kompas, Selasa (31/5). Setelah menulis secara langsung di depan undangan, penulisan dilanjutkan secara bergantian dari meja kerja masing-masing. Keenam penulis ini dianggap mewakili 23 penulis cerpen yang diundang malam itu. Judul “Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua” ditulis secara langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan yang juga hadir. Cerpen ini dipersembahkan khusus untuk merayakan 51 tahun harian Kompas, yang jatuh pada 28 Juni.

Pelajaran Mengarang 

oleh Seno Gumira Ajidarma


“Pelajaran mengarang sudah dimulai. Kalian punya waktu 60 menit”, ujar Ibu Guru Tati.
Anak-anak kelas V menulis dengan kepala hampir menyentuh meja. Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih.

Judul pertama “Keluarga Kami yang Berbahagia”. Judul kedua “Liburan ke Rumah Nenek”. Judul ketiga “Ibu”. Ibu Guru Tati memandang anak-anak manis yang menulis dengan kening berkerut. Terdengar gesekan halus pada pena kertas. Anak-anak itu sedang tenggelam ke dalam dunianya, pikir Ibu Guru Tati. Dari balik kaca-matanya yang tebal, Ibu Guru Tati memandang 40 anak yang manis, yang masa depannya masih panjang, yang belum tahu kelak akan mengalami nasib macam apa.
Sepuluh menit segera berlalu. Tapi Sandra, 10 Tahun, belum menulis sepatah kata pun di kertasnya. Ia memandang keluar jendela. Ada dahan bergetar ditiup angin kencang.

Ingin rasanya ia lari keluar dari kelas, meninggalkan kenyataan yang sedang bermain di kepalanya. Kenyataan yang terpaksa diingatnya, karena Ibu Guru Tati menyuruhnya berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, “Liburan ke Rumah Nenek”, “Ibu”.

Sandra memandang Ibu Guru Tati dengan benci. Setiap kali tiba saatnya pelajaran mengarang, Sandra selalu merasa mendapat kesulitan besar, karena ia harus betul-betul mengarang. Ia tidak bisa bercerita apa adanya seperti anak-anak yang lain. Untuk judul apapaun yang ditawarkan Ibu Guru Tati, anak-anak sekelasnya tinggal menuliskankenyataan yang mereka alami. Tapi, Sandra tidak, Sandra harus mengarang. Dan kini Sandra mendapat pilihan yang semuanya tidak menyenangkan. Ketika berpikir tentang “Keluarga Kami yang Berbahagia”, Sandra hanya mendapatkan gambaran sebuah rumah yang berantakan. Botol-botol dan kaleng-kaleng minuman yang kosong berserakan di meja, dilantai, bahkan sampai ke atas tempat tidur. Tumpahan bir berceceran diatas kasur yang spreinya terseret entah ke mana. Bantal-bantal tak bersarung. Pintu yang tak pernah tertutup dan sejumlah manusia yang terus menerus mendengkur, bahkan ketika Sandra pulang dari sekolah.“Lewat belakang, anak jadah, jangan ganggu tamu Mama,” ujar sebuah suara  dalam ingatannya, yang ingin selalu dilupakannya.

Lima belas menit telah berlalu. Sandra tak mengerti apa yang harus dibayangkanya tentang sebuah keluarga yang berbahagia.“Mama, apakah Sandra punya Papa?”
“Tentu saja punya, Anak Setan! Tapi, tidak jelas siapa! Dan kalau jelas siapa belum tentu ia mau jadi Papa kamu! Jelas? Belajarlah untuk hidup tanpa seorang Papa! Taik Kucing dengan Papa!”

Apakah Sandra harus berterus terang? Tidak, ia harus mengarang. Namun ia tak punya gambaran tentang sesuatu yang pantas ditulisnya. Dua puluh menit berlalu. Ibu Guru Tati mondar-mandir di depan kelas. Sandra mencoba berpikir tentang sesuatu yang mirip dengan “Liburan ke Rumah Nenek” dan yang masuk kedalam benaknya adalah gambar seorang wanita yang sedang berdandan dimuka cermin. Seorang wanita dengan wajahpenuh kerut yang merias dirinya dengan sapuan warna yang serba tebal. Merah itu sangat tebal pada pipinya. Hitam itu sangat tebal pada alisnya. Dan wangi itu sangat memabukkan Sandra.

“Jangan Rewel Anak Setan! Nanti kamu ku ajak ke tempatku kerja, tapi awas, ya? Kamu tidak usah ceritakan apa yang kamu lihat pada siapa-siapa, ngerti? Awas!”
Wanita itu sudah tua dan menyebalkan. Sandra tak pernah tahu siapa dia. Ibunya memang memanggilnya Mami. Tapi semua orang didengarnya memanggil dia Mami juga. Apakah anaknya begitu banyak? Ibunya sering menitipkan Sandra pada Mami itu kalau keluar kota berhari-hari entah ke mana. Di tempat kerja wanita itu, meskipun gelap, Sandra melihat banyak orang dewasa berpeluk-pelukan sampai lengket. Sandra juga mendengar musik yang keras,tapi Mami itu melarangnya nonton.

“Anak siapa itu?”
“Marti.”
“Bapaknya?”
“Mana aku tahu!”
Sampai sekarang Sandra tidak mengerti. Mengapa ada sejumlah wanita duduk diruangan kaca ditonton sejumlah lelaki yang menujuk-nunjuk mereka.
“Anak kecil kok dibawa kesini, sih?”
“Ini titipan si Marti. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian dirumah. Diperkosa orang malah repot nanti.”
Sandra masih memandang keluar jendela. Ada langit birudiluar sana. Seekor burung terbang dengan kepakan sayap yang anggun.

Tiga puluh menit lewat tanpa permisi. Sandra mencoba berpikir tentang “Ibu”. Apakah ia akan menulis tentang ibunya? Sandra melihat seorang wanita yang cantik. Seorang wanita yang selalu merokok, selalu bangun siang, yang kalau makan selalu pakai tangan dan kaki kanannya selalu naik keatas kursi. Apakah wanita itu Ibuku? Ia pernah terbangun malam-malam dan melihat wanita itu menangis sendirian.

“Mama, mama, kenapa menangis, Mama?” Wanita itu tidak menjawab, ia hanya menangis, sambil memeluk Sandra. Sampai sekarang Sandra masih mengingat kejadian itu, namun ia tak pernah bertanya-tanya lagi. Sandra tahu, setiap pertanyaan hanya akan dijawab dengan “Diam, Anak Setan!” atau “Bukan urusanmu, Anak Jadah” atau “Sudah untung kamu ku kasih makan dan ku sekolahkan baik-baik. Jangan cerewet kamu, Anak Sialan!”

Suatu malam wanita itu pulang merangkak-rangkak karena mabuk. Di ruang depan ia muntah-muntah dan tergelatak tidak bisa bangun lagi. Sandra mengepel muntahan-muntahan itu tanpa bertanya-tanya. Wanita yang dikenalnya sebagai ibunya itu sudah biasa pulang dalam keadaan mabuk.

“Mama kerja apa, sih?” Sandra tak pernah lupa, betapa banyaknya kata-kata makian dalam sebuah bahasa yang bisa dilontarkan padanya karena pertanyaan seperti itu.Tentu, tentu Sandra tahu wanita itu mencintainya. Setiap hari minggu wanita itu mengajaknya jalan-jalan ke plaza ini atau ke plaza itu. Di sana Sandra bisa mendapat boneka, baju, es krim, kentang goreng, dan ayam goreng. Dan setiap kali makan wanita itu selalu menatapnya dengan penuh cinta dan seprti tidak puas-puasnya. Wanita itu selalu melap mulut Sandra yang belepotan es krim sambil berbisik, “Sandra, Sandra …” Kadang-kadang, sebelum tidur wanita itu membacakan sebuah cerita dari sebuah buku berbahasa inggris dengan gambar-gambar berwarna. Selesai membacakan cerita wanita itu akan mencium Sandra dan selalu memintanya berjanji menjadi anak baik-baik.“Berjanjilah pada Mama, kamu akan jadi wanita baik-baik, Sandra.”
“Seperti Mama?”
“Bukan, bukan seperti Mama. Jangan seperti Mama.”

Sandra selalu belajar untuk menepati janjinya dan ia memang menjadi anak yang patuh. Namun wanita itu tak selalu berperilaku manis begitu. Sandra lebih sering melihatnya dalam tingkah laku yang lain. Maka, berkelebatan di benak Sandra bibir merah yang terus menerus mengeluaran asap, mulut yang selalu berbau minuman keras, mata yang kuyu, wajah yang pucat, dan pager …Tentu saja Sandra selalu ingat apa yang tertulis dalam pager ibunya. Setiap kali pager itu berbunyi, kalau sedang merias diri dimuka cermin, wanita itu selalu meminta Sandra memencet tombol dan membacakannya.

DITUNGGU DI MANDARIN KAMAR: 505, PKL 20.00

Sandra tahu, setiap kali pager ini menyebut nama hotel, nomor kamar, dan sebuah jam pertemuan, ibunya akan pulang terlambat. Kadang-kadang malah tidak pulang sampai dua atau tiga hari. Kalau sudah begitu Sandra akan merasa sangat merindukan wanita itu. Tapi, begitulah , ia sudah belajar untuk tidak pernah mengungkapkanya.

Empat puluh menit lewat sudah. “Yang sudah selesai boleh dikumpulkan,” kata Ibu guru Tati.Belum ada secoret kata pun dikertas Sandra. Masih putih, bersih, tanpa setitik pun noda.Beberapa anak yang sampai hari itu belum mempunyai persoalan yang teralalu berarti dalam hidupnya menulis dengan lancar. Bebarapa diantaranya sudah selesai dan setelah menyerahkannya segera berlari keluar kelas. Sandra belum tahu judul apa yang harus ditulisnya.“Kertasmu masih kosong, Sandra?” Ibu Guru Tati tiba-tiba bertanya. Sandra tidak menjawab. Ia mulai menulis judulnya: Ibu. Tapi, begitu Ibu Guru Tati pergi, ia melamun lagi. Mama, Mama, bisiknya dalam hati. Bahkan dalam hati pun Sandra telah terbiasa hanya berbisik.

Ia juga hanya berbisik malam itu, ketika terbangun karena di pindahkan ke kolong ranjang. Wanita itu barangkali mengira ia masih tidur. Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.

“Waktu habis, kumpulkan semua ke depan,” ujar Ibu Guru Tati.Semua anak berdiri dan menumpuk karanganya di meja guru. Sandra menyelipkan kertas di tengah. Di rumahnya, sambil nonton RCTI, Ibu Guru Tati yang belum berkeluarga memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Setelah membaca separo dari tumpukan karangan itu, Ibu guru Tati berkesimpulan, murid-muridnya mengalami masa kanak-kanak yang indah. Ia memang belum sampai pada karangan Sandra, yang hanya berisi kalimat sepotong:
Ibuku seorang pelacur…

Palmerah, 30 November 1991 Dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993.

PERJANJIAN DI AWAL WAKTU
Tjahjono Widijanto

Apalagi yang dapat kau lakukan jika pada malam pun
Kau enggan menyapa
Bukanlah kita pernah sama-sama berjanji
Antara bulan dan matahari kela takkan kita bedakan?
Kini menjelang hari-hari yang mungkin kelewat laju
Sudahkah engkau bisikkan pada anak cucu
tentang perjanjian di awal waktu
Saat bulan jadi saksi atas kesepakatan
Yang telah lama kita tolerkan pada pusar bumi
Dan bilamana anak cucu sudah sama merubung
Kita akan mendongenginya satu-satu selepas magrib
Sebelum mereka terlelap sembari menghitung waktu
Menghabiskan hitungan jari satu-satu
Sebelum pada saatnya seperti kita , tak pernah usai
Berteka-teki
Cuma bersimpuh menatap bulan berpasang-pasang
Yang kembali jadi saksi tentang akhir perjalanan
Mengulangi lagi kesepakatan antara kita

Sketsa
Karya: Tjahjono Widijanto

Guratan ini selalu abadi sepanjang
abad melahirkan sederetan pertanyaan yang diuntai di awal subuh
hingga mimpi mulai merayap
dan kita tidak bisa selain harus serta menunggu
hari-hari ditaburi embun
bersama-sama sajak-sajak yang terus ditulis
meski hari-hari tidak lagi sudi menerimanya
tapi kita selalu tetap dengan sebilah puisi

Ukuran Pendidikan 

Apa ukuran keberhasilan pendidikan? Perubahan apa yang dihasilkan dari proses pendidikan? Ciri apakah yang sepatutnya ada pada mereka yang menyebut dirinya kaum berpendidikan?
Mendapati stiker yang tertempel di meja di food court salah satu gerai home furnishing terkemuka, saya merasa bagus juga untuk terus terang langsung mengingatkan. Tergelitik juga karena dengan memakai kata mohon, seakan-akan apa dihimbau adalah sesuatu pekerjaan yang berat padahal merupakan kewajiban yang secara alamiah lahir karena sudah menggunakan meja dan kursi.
Tadinya tergelitik berubah menjadi miris karena sambil menikmati kopi dan kudapan manis kami melihat satu demi satu pengunjung pergi begitu saja setelah selesai makan, padahal tersedia rak di arah keluar siap menampung nampan, piring dan gelas juga tempat sampah yang setia mewadahi sampah. Ketika menilik lebih teliti saya mendapati juga makanan yang terbuang percuma, bahkan ada semangkok penuh saos tomat dan dressing yang belum terjamah.
Menurut anda siapa target pasar dari gerai home furnishing ini? Jika dilakukan survei, apakah tingkat pendidikan mereka dan berapakah penghasilan mereka? Lumayan jadi bahan diskusi yang menarik dengan anak-anak terutama soal karakter tanggung jawab dan menghormati hak orang lain. Bisa membayar tidak menjadikanmu berhak melalaikan kewajibanmu. Membersihkan meja makan bukan pertolongan yang kamu hadiahkan kepada pengguna selanjutnya melainkan pembuktian bahwa kamu seorang manusia beradab. Demikian juga menyia-nyiakan sumber daya alam dengan membuang makanan sama dengan merebut hak orang lain dan tidak menghargai upaya orang yang menanam dan menyiapkannya.

By : Seorang Ayah
Via line AyoKuliah



MY VALENTINE
Judul Buku      : My Valentine
Penulis             : Hanna Al – Ithriyah
Terbit               : Gema Insani
Cetakan           : 1, Dzulqa’idah 1427 H / November 2006 M
Tebal               : 192 halaman

Resensi

           Hanna Al-Ithriyah, penulis muda berbakat ini masih bersekolah di Madrasah Aliah (P1) Annuqayah, Sumenep, Madura, Lahir di Sumenep, 22 desember 1985, karyanya yang berjudul “Selaka Rindu Dinda“ berhasil memperoleh juara hiburan pertama pada lomba SMCI Gema Insani dan di bukukan dalam antologi cerpen pemenang sayembara yang judulnya diambil dari judul cerpennya, “ Selaka Rindu Dinda“.
        
        Kali ini, Hanna Al-Ithriyah kembali meluncurkan buku kumpulan cerpen karyanya yang berjudul “My Valentine“ yang berisi sebelas cerita dengan karakteristik yang berbeda di setiap ceritanya. Kumpulan cerpen “My Valentine“ secara tidak langsung membuat ketertarikan ingin membacanya. Yang paling mempengaruhi itu adalah judulnya, yang sudah familiyar dengan remaja-remaja. Banyak orang yang salah memprediksikan isi buku ini, karena mereka melihat dari judulnya, padahal isinya sangat berbeda dengan yang mereka prediksikan. Selain itu bahasanya sangat mudah dimengerti walaupun ada sebagian kata yang memakai bahasa arab dan madura tetapi di akhir cerita diberikan keterangannya.

        Diantara sebelas cerita, ada 3 cerita yang terlihat paling menyentuh hati dan mengharukan. Ketiga cerita itu adalah “Dialog Alam Barzah“, “H Minus 7 (My Valentine)”, “Donat“. Ketiga cerita ini mengandung makna yang sangat dalam. Bisa dilihat dari cerita “Dialog Alam Barzah“ menceritakan tentang amalan seseorang yang tidak menjamin masuk surga yaitu menceritakan di 24 orang hamba Allah, yang salah satu dari mereka adalah ahli ibadah, ternyata seorang ahli ibadah tidak menjamin dia akan masuk surga karena orang tersebut belum bisa menghindari penyakit hati.

        Ternyata yang masuk surga adalah orang yang selalu menjaga agar hatinya selalu bersih dari penyakit hati. Dalam cerita ini bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti seakan-akan kita menyaksikan langsung kejadian tersebut.

        Dicerita yang kedua bahasa yang digunakan yaitu bahasa gaul anak remaja sekarang yang berjudul “H Minus 7 (My Valentine)“ isinya menceritakan seorang anak muda yang bernama Boy. Anak muda ini sedang mencari pasangan untuk merayakan hari valentine, ternyata cewek-cewek di sekolahnya sudah mempunyai gandengan. Yang belum hanyalah anak Rohis. Ia diperkenalkan oleh temannya dengan seorang akhwat dan temannya memberi saran untuk secepatnya mengirim sebuah kado dan sekotak coklat.
Boy mengikuti saran temannya itu. Setelah itu Boy mendapat bingkisan itu kembali dan didalamnya terdapat secarik kertas yang didalamnya berisi penolakan menerima bingkisan Valentine itu. Akhwat itu menolak ajakan dan pemberian bingkisan itu, lalu akhwat itu menjelaskan alasannya dan memberi pesan yang sangat menyentuh hati sehingga bisa membuat Boy kembali mendekat kepada Allah SWT.

        Dicerita yang ketiga “Donat“ isinya kita ambil hikmah yang sangat besar karena ceritanya sangat menyentuh hati, sampai bisa membuat menangis pembacanya dan sangat membuat penasaran karena judulnya seperti komedi. Didalamnya menceritakan sebuah keluarga yang harmonis, seorang ibu yang mempunyai dua orang anak yang bernama Yuli dan Ipit. Ipit anak yang paling kecil, dia sangat suka makan donat. Sehari saja dia tidak makan donat dia pasti mayur dan bertingkah tidak karuan. Suatu hari dia masuk rumah sakit, ternyata dia mengidap penyakit turunan dari ayahnya yaitu penyakit diabetes. Tidak berapa lama Ipit meninggal dunia. Cerita itu sangat mengharukan dibanding cerita yang lain.

        Kesimpulan cerpen ini sangat bagus karena bisa membuat pembacanya penasaran dan semua makna ceritanya sangat mendalam, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil di buku itu, bahasanya tidak berbeli-belit tapi sangat mudah dimengerti.
Setelah membaca buku kumpulan cerpen “My Valentine‘ karya Hanna Al-Ithriyah, sangat berdampak positif terhadap pembacanya dan banyak sekali hikmah yang bisa diambil, selain itu bisa menjadikan kita sadar dalam dalam menjalani hidup ini. Kelebihan yang paling menonjol didalam buku ini adalah judulnya yang sangat bagus karena judul itu seperti mendeskripsikan isinya cerita yang bukan islami, tetapi kenyataanya isinya itu sangat islami. Kumpulan cerpen ini mempunyai beberapa kekurangan yaitu alur ceritanya kurang bisa mengerti dan jalan semua ceritanya terlalu lambat.

Kepada Tiankong, Langit Yang Jauh
Karya Naning Pranoto
Sumber: Kompas, Edisi 12/15/2002 


OHHHH... wangi! Tiba-tiba tercium wanginya aroma melati. Bisa kupastikan, lebih wangi dari aroma peri dalam dongeng yang pernah dituturkan oleh almar-humah mbah buyut-ku. Tetapi, cerita yang kutulis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dongeng mbah buyut-ku itu. Melainkan sesuatu yang kujumpai di dalam pesawat, yang menerbangkanku dari Singapura ke Jakarta.

Ternyata, aroma melati itu tidak hanya menghentak daya penciumanku, tetapi juga pencium
an orang-orang sekitarku. Khususnya mereka yang duduk di VIP-seats, bersumbernya embusan aroma wangi tersebut. "Wowww!" tiba-tiba kudengar bisik-bisik di sekitarku ketika muncul seorang perempuan muda mencari-cari seat. Ia bertubuh tinggi semampai, berkulit warna almond, bergaun panjang, ketat, warna merah darah. Rambutnya hitam legam, panjangnya sebahu diurai lepas. Tangan kirinya menjinjing kopor kecil dan tangan kanannya membawa barang yang dikantungi kain sutera keemasan. Matanya yang dibingkai alis tebal tampak berbinar-binar. Pikirku spontan, rupanya dialah si peri, sumber wangi aroma melati. Ia lalu kunamai Si Peri."Number ten-bi...! Yes, it's mine. Sorry!" kata Si Peri, suaranya lembut, Inggrisnya beraksen Amerika kental. Perilakunya santun.

Ia menghampiriku yang duduk di seat nomor 10-A. Ternyata seat-nya nomor 10-B. Jadi, ia duduk di sampingku? Astaga! Jantungku berdetak cepat. Itu, bukan karena aroma wangi melati segar yang menebar dari tubuhnya, melainkan, karena action Si Peri. Ia menaikkan kopernya ke bagasi yang ada di atas seat, belahan gaun panjangnya membuka dan pahanya yang mulus tampak kemana-mana. Paha itu menjadi perhatian banyak orang. Tetapi ia tampak tenang-tenang saja. Dengan kalem ia menutup bagasi, lalu duduk di sampingku sambil menyapaku dengan renyah, "Hello, how are you?""Good! Thanks!" sahutku kikuk dalam mengimbangi suara renyahnya. Kata teman-temanku, aku memang jenis pria yang suka kikuk dalam menghadapi perempuan, apalagi perempuan asing-yang belum dikenalnya.

Tetapi, kekikukan yang kali ini berbeda dengan kekikukan yang biasanya kurasakan. Biasanya, aku merasa kikuk menghadapi perempuan karena aku merasa tidak punya bahan menarik, yang bisa kusajikan sebagai bahan pembicaraan. Sedangkan kekikukanku kali ini, karena aku terheran-heran oleh penampilan Si Peri yang superwangi dan keberaniannya dalam berbusana.

Apa sih profesinya?. Apakah ia seorang foto-model? Atau ia seorang semacam call-girl? Ahh, otakku jadi kotor menuduhnya yang tidak-tidak."Maaf. Boleh tahu? Anda mau ke Jakarta atau ke Bali?" tanyanya, beberapa menit setelah pesawat take-off menuju Jakarta. Sungguh, pertanyaannya mengejutkanku, karena aku sedang memikirkan profesinya."E... saya mau ke Jakarta. Anda? Anda mau kemana?" sahutku agak gugup, karena tidak menyangka sama sekali kalau ia mau menegurku."Saya mau ke Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga!" sahutnya cepat."Anda mau ke Tian-Tiankong untuk berbakti kepada keluarga? Sungguh mulia niat Anda. Tetapi, di mana Tiankong itu?" tanggapku spontan, karena merasa asing terhadap tempat yang disebutnya."O, sorry, saya berbahasa Mandarin," ralatnya, "...ee.. maksud saya, Tian-Tiankong itu artinya Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga. Ya, saya mau ke Langit. 

Langit Yang Jauh...! Ke Surga!""Maksud Anda?" keningku spontan berkerut."Nah...nah... Anda bingung kan? Anda tidak tahu di mana letak Langit Yang Jauh?" ia tersenyum, "Itu, negeri yang kata waipo-ya, ya kata nenek saya, Tiankong itu sebuah negeri yang sangat indah, seindah Surga.

Puluhan tahun ia merindukannya!" senyumnya tiba-tiba menghilang, tergantikan kerut-kerut bibir gemetar, menahan tangis. "...tapi, kerinduannya tidak pernah terwujud secara nyata." Ia mengusap butir-butir airmatanya yang meleleh di kedua pipinya.Aku bingung. Aku tidak memahami alur pembicaraannya. Maka, aku lalu memberanikan diri untuk minta penjelasan. "Hem...Miss...,""Nama saya Peony. Maksud saya Peony Wu...," ia memenggal kalimatku."Ya, Miss Peony, maafkan saya. Saya tidak memahami apa yang Anda bicarakan. 

Maukah Anda memperjelasnya?" pintaku, karena penasaran."Tentu saja Anda tidak memahaminya, karena alur pembicaraan saya rancu. Itu, karena saya tidak tahu, dari mana saya harus memulainya. Materinya terlalu panjang dan rumit. Ini menyangkut sejarah.""Menyangkut sejarah? Sejarah apa?" aku semakin tidak mengerti."Sejarah perjalanan hidup orang-orang Tionghoa di Indonesia paska Perang Kemerdekaan Indonesia sampai dengan detik-detik meletusnya G 30 S PKI. Nah, nenek saya termasuk di dalamnya...""E, nenek Anda, pernah tinggal di Indonesia?" tiba-tiba aku menemukan clue kemana arah pembicaraan Si Peri yang mengaku bernama Peony Wu."Yes! Anda cerdas. 
Saya suka," mata Peony yang semula redup, kembali berbinar. 

"Jadi, Anda paham apa yang saya maksud dengan Langit Yang Jauh?""Indonesia?" aku menebak dengan ragu-ragu."Yes, absolutely correct! Thanks!" ia bersorak, sambil mengguncang-guncang tanganku, "Anda cerdas!" pujinya berkali-kali. Pujiannya membuatku jadi merasa akrab dan dekat dengannya. Maka, kulanjutkan dialogku dengannya, "Jadi, Anda mau ke Indonesia? Ke kota mana?" tanyaku kemudian.

"Ke Batu-Malang. Di kota itu nenek saya lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia.

Ironisnya, tahun '62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena nenek saya tidak mau ganti nama Indonesia. Nenek saya bilang, ia terkena PP-10. Anda tahu peraturan itu?" ia memandangiku."Maaf, saya tidak tahu!" aku berterus terang."Sama. Yang saya tahu, karena PP-10 itu nenek saya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Nenek saya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenek saya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibu saya yang kemudian menikah dengan orang Portugis...!""O, jadi Anda berdarah Portugis?" selaku, sambil mengamati wajahnya yang memang tidak mirip Tionghoa."Ya, saya ini blasteran Tionghoa-Portugis, lahir di Macao, besar di Amerika.

Kemudian, saya sekarang punya usaha di Singapura, buka butik!""O, makanya Anda modis." Komentarku tentang dirinya. "Oiya, nenek Anda sekarang di mana?" tanyaku, karena aku ingin tahu keberadaan neneknya."Nenek saya sekarang di sini! Di pesawat ini!" ia memandangiku, "...karena dia sedang menuju ke Langit Yang Jauh. Suatu tempat yang ia rindu-kan...""Ah, Anda jangan bercanda," tanggapku serius."Saya tidak bercanda. Nenek saya sekarang memang sedang berada di pesawat bersama saya, bersama Anda dan bersama semua penumpang pesawat ini," lagi-lagi ia memandangiku. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari kantung sutera warna keemasan yang tadi kulihat dibawanya, "Nenek saya ada di sini. Di dalam botol perak ini!" ia menunjukkan ujung botol yang ada di kantung sutera."Ohhh...," aku tidak bisa berkata apa-apa selain menarik nafas."Nenek saya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun.

Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek saya itu dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI!" mata Peony membasah lagi, "tapi, bagaimanapun nenek saya tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya," sambung Peony tersenyum getir. Ia lalu mengajakku ke Batu- Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.

Jakarta, akhir Oktober 2002
monoton27.blogspot.com     


Kisah Si Telepon Koin

Lusuh dan penuh noda itulah diriku. Selama bertahun-tahun aku hanya berdiam diri dipinggiran jalan, menunggu datangnya seseorang yang selama ini setia datang menemuiku. Bisingnya suara kendaraan berlalu lalang dan debu yang terus menerus menghinggapi badanku, sudah tak terasa lagi. Kini aku renta. Tidak adalagi yang mempedulikanku, terkadang aku hanya menjadi pelampiasan tangan-tangan jahil para manusia. Dikencingi, dilempari batu, hingga dicoreti. Entah sejak kapan mereka berubah menjadi buas seperti binatang.

Aku memang sebuah benda yang tak ada artinya saat ini. Sejak mereka bersekolah dan menemukan sebuah benda dengan kemampuan yang lebih canggih, aku mulai dikesampingkan bahkan tak pernah dianggap ada lagi. Menjadi penghias kota ? tentu bukan, badanku kini penuh coretan dan berbau pesing mana mungkin aku bisa mempercantik kota. Mungkin aku hanya membantu pada saat hujan turun, melindungi manusia dari air hujan. Itupun jika hujannya tidak terlalu besar.  Tidak dihargai itulah aku kini.

Padahal genggaman tangan dan lantunan kisah telah aku rasakan ribuan kali. Kisah cinta, bahagia, haru, kasih sayang, rindu, bangga, duka, pedih, kekecewaan, marah, penderitaan bahkan perjuangan telah aku rasakan. Aku adalah saksi mati kisah para manusia, tetapi mereka membuangku begitu saja.

Genggaman hangat itu aku rasakan 40 tahun yang lalu, seorang pengemis kecil selalu datang mendekatiku. Ia begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu dikepalanya,tetapi badannya yang masih kecil tidak dapat menggapai aku yang tinggi. Hari itu pengemis kecil datang lagi namun ada yang berbeda, seorang pria tua berkemeja putih dengan gulungan di lengannya menghampirinya. Ia tersenyum geli kemudian mulai menceritakan apa yang ingin diketahui oleh pengemis kecil itu.

Hampir setiap hari mereka berdua datang menemuiku dan bercerita. Genggaman tangan pengemis kecil itu membuatku merasa hangat. Tetapi terkadang disuatu malam ia datang sendiri menemuiku, genggamannya tiba-tiba bergetar hebat diselingi isakan kecil kemudian ia bercerita begitu pilu.

Di akhir pekan biasanya pengemis kecil dan pria bekemeja putih itu datang membawa ember dan kain lap. Mereka selalu membersihkan badan-badanku yang mulai kotor. Banyak orang yang memandang mereka aneh tetapi adapula yang memandang mereka dengan tatapan hangat. mereka tidak terlalu memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang dan terus saja membersihkan badanku diakhir pekan.

Hari-hari terlewati, bulan-bulan berganti dengan tahun, si pengemis kecil dan pria tua berkemeja putih semakin akrab bercerita sambil menggenggamku. Hingga pada suatu malam pria tua itu datang dan bersandar dikakiku yang dingin, ia menempelkan secarik kertas di dinding badanku tertatih-tatih. Aku tahu kertas kecil itu tentu pesan yang ia tinggalkan untuk si pengemis kecil esok hari.

Pria tua berkemeja putih itu semakin melemah bersandar dikakiku, hembusan angin malam semakin kencang dan udara semakin terasa dingin. Pria tua itu tetap tersenyum hingga nafasnya perlahan-lahan tak terdengar lagi. Aku bisa merasakan tubuhnya mulai kaku, dan angin malam mengiringinya pergi dengan tenang.

Kicauan burung mulai terdengar, seiring sayup-sayup suara segerombolan orang mulai berdatangan mengelilingiku. Mereka menemukan jasad pria tua berkemeja putih bersandar sambil tersenyum dikakiku. Biarkan aku menjelasakannya! ia sedang tertidur dengan tenang! tolong jangan beritahu si pengemis kecil! tetapi usahaku nihil, aku tetaplah aku. Aku hanya sebuah benda dipinggir jalan, tidak ada satupun benda bisa berbicara.

Dalam kerumunan itu tiba-tiba menyusuplah pengemis kecil, ketika tahu apa yang ia dapati. Ia hanya bisa menatap lurus kearah pria tua berkemeja putih, air matanya tak dapat berhenti menetes. Sampai pada akhirnya jasad pria tua itu dibawa pergi, si pengemis kecil tetap tak bergeming, ia tetap menangis sesekali menahan isakannya.

Satu minggu berlalu pengemis kecil itu masih menggenggamku dan bersandar dikakiku yang dingin. Ia tak henti-hentinya becerita seolah-olah ia bercerita dengan si pria tua berkemeja putih. Ia bercerita tentang segala hal termasuk tentang mimpinya terkadang sampai ia tertidur.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti dengan tahun si pengemis kecil terus bertumbuh besar, ia tetap menjagaku seperti yang ia lakukan ketika bersama pria tua berkemeja putih. Namun ada yang berbeda, kini ia bukanlah pengemis lagi, impiannya terwujud. Apa yang ia ceritakan menjadi nyata. Terkadang ia menghabiskan satu malam bersandar dikakiku sambil bercerita. Aku tahu jauh diseberang jalan sana, pria tua berkemeja putih memperhatikannya dengan tatapan hangat sambil tersenyum.

Semenjak malam itu aku tak pernah lagi bertemu dengan pengemis kecil yang sudah berubah menjadi pria dewasa. Tak ada lagi yang merawatku, tak ada lagi cerita panjang, dan tak ada lagi genggaman sehangat itu. Hingga saat ini, hingga aku renta dan berbau pesing. Sudah 30 tahun berlalu, aku masih tetap menunggu kedatangannya.

Angin malam bertiup dengan kencang, suasana malam ini seperti kembali ke masa 35 tahun yang lalu, saat si pria tua tertidur dengan tenang dikakiku. Samar-samar bayangan itu mulai mendekatiku, aku bisa merasakan ada yang menyentuhku. Aku  bisa mengenalinya, dia si pria tua berkemeja putih. Dia datang ! sejenak ia memperhatikanku dengan mata nanar dan sedih, sedih melihat keadaanku yang renta tidak terawat. Kemudian ia menggenggamku dan memperhatikan tombol yang berderet rapi. Memperhatikan setiap detail badanku yang usang.
Aku rasa dia sama denganku, merindukan kedatangan si pengemis kecil yang tiba-tiba pergi tak kembali.

Siang ini matahari begitu terik tetapi anginnya terasa sejuk, dari kejauhan terlihat  seorang pria paruh baya menggandeng gadis kecil berkucir dua. Mereka membawa ember dan kain lap, datang menghampiriku. Si gadis kecil itu bertanya penuh heran kepada pria itu, untuk apa mereka membersihkan aku. Pria paruh baya itu mulai bercerita sambil membasuh badanku yang bau ini  dan mengusapnya perlahan. Aku bisa mengenalinya, dia adalah si pengemis kecil yang aku rindukan.

Setelah mereka selesai, pengemis kecil yang sudah bertumbuh menjadi pria paruh baya itu mengajari gadis kecil berkucir dua menggenggamku. mereka mulai bercerita, tertawa dan bahagia. Angin semilir perlahan menerpaku  membuat kertas yang tertempel di badanku berbunyi. Ternyata itu menarik perhatian  gadis kecil berkucir dua, ia mengambilnya dan memberinya kepada si pria paruh baya.

Butiran airmata mulai bejatuhan di pipi pria itu, ia tersenyum sambil memeluk gadis berkucir dua. Rasa hangat perlahan menjalar lagi, aku tahu kisah ini akan mulai mengalun indah kembali. Walaupun aku hanya sebuah telepon koin tua yang tak berguna.

http://ceritanisaasin.blogspot.com/2013/03/kisah-si-telepon-koin.html?m=1
SELASA, 12 MARET 2013

Cerpen Kelinci Merah
Oleh Afrizal Malna
(Kompas, 11 November 2012)


BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.

Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.

Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan.

Hutan dengan langit-langit kecilnya di antara daun-daun kering yang melayang jatuh, menyimpan kenangan tentang yang berlalu dan berulang. Akar-akarnya saling menjalin, merajut tanah dengan air yang membasahinya. Waktu membangun arsitektur keheningan di dalamnya, terjalin dalam konstruksi kekosongan.

Krak”
Sebuah dahan patah dan jatuh. Lepas dari batang pohonnya. Patah dan jatuh yang tak terbayangkan. Seperti ada pesawat yang gemetar pada setiap pohon tua dalam hutan itu. Hutan hanya membuat jalan melalui sungai yang dibentuknya sendiri berdasarkan gerak dan berat air, menelusuri relung-relung tanah. Ke bawah dan ke bawah, menemui relung-relung lainnya. Jalan yang tidak pernah berbalik melawan hutan itu sendiri. Uap putih tipis terus membubung, berangsur-angsur, dari daun-daun yang membusuk menjadi udara. Tak ada halaman belakang dan tak ada halaman depan. Sebuah sirkuit kehidupan dan kematian yang tidak memisahkan kedatangan dan kepergian. Ruang yang membatalkan semua awal dan akhir. Denyut hutan menembus ke dalam yang bukan aku lagi.

Nama hutan itu Arca Domas. Dilindungi oleh pikukuh, ketentuan adat yang tak boleh dilanggar. Pikukuh yang membatalkan listrik dan mesin, pikukuh yang tak boleh melukai tanah. Tanah tidak boleh digali, dipacul atau dibajak. Kontur tanah harus tetap terjaga dari erosi. Tanah hanya boleh ditusuk dengan bambu yang ujungnya telah diruncingi untuk kemudian ditanami. Pikukuh yang melarang menggunakan sabun, kaca maupun cermin. Pikukuh yang terus-terusan membatalkan perubahan. Kayu panjang tak boleh dipotong, kayu pendek tak boleh disambung.

Dalam hutan Arca Domas itu, sepanjang waktu yang terdengar hanyalah berbagai jenis suara serangga, burung, dan suara binatang lainnya. Tidak ada suara lain. Kini, hutan dalam rajutan berbagai frekuensi tinggi-rendahnya desing suara serangga, berulang, konstan, terdapat tiga orang makhluk. Mereka bertiga merasa telah terperangkap hidup di bumi melalui sebuah peristiwa yang tidak mereka mengerti. Peristiwa itu terjadi begitu saja. Berangsur-angsur, seperti berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Mereka bertiga juga tidak tahu asal-usul mereka.

Telah berhari-hari ketiga makhluk itu mondar-mandir dalam hutan itu, memakan apa saja yang bisa mereka makan. Di bumi, untuk pertama kalinya mereka merasakan tentang lapar, lelah, dan sakit. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal hidup, usia, waktu, cinta, kesepian, bosan. Sesuatu yang harus membuat mereka waspada. Mulai mengenal kesedihan, kebahagiaan, kenangan, dan kematian. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal tentang konsep Tuhan, alam semesta, dan keturunan. Konsep-konsep yang aneh karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana lumut diciptakan. Bagaimana tanah ada. Kesadaran yang kemudian lebih banyak dipelihara melalui kepanikan, seakan-akan ada dunia lain sebelum ada dan setelah ada yang membayanginya.

Bayangan yang membuat malam dan siang. Bayangan yang mulai membelah ruang di sana dan di sini. Mereka mulai belajar merangkak dalam hutan itu, belajar berdiri, berjalan, berjalan maju dan mundur, berputar, melompat, tidur dan belajar menghapus air mata. Belajar memanjat, mandi dan berenang di sungai. Belajar membedakan bentuk-bentuk dan warna, cuaca, membedakan bau tanah dan bau tubuh mereka. Belajar mengalami yang telah berlalu dan yang akan dilalui. Belajar membedakan antara aku, kamu, dan dia. Mereka mulai memberi nama-nama dari yang mereka alami, menjadi kata yang menyimpan pengertian-pengertian dari yang pernah mereka alami. Belajar membuat kalimat untuk menyimpan kisah-kisah dari yang mereka alami. Akhirnya mereka mengukuhkan keterperangkapannya melalui bahasa. Mereka ketakutan ketika mengetahui nafsu untuk hidup begitu menguasai mereka. Sehingga mereka mulai berburu, memakan binatang, memakan bentuk-bentuk kehidupan lainnya.

Punten”
Mereka terkejut sendiri dengan ungkapan ini. Rasanya dalam, seperti ada liang dalam diri mereka. Liang yang membuat tangan mereka seperti tenggelam ketika mengucapkannya. Punten.”Ungkapan permisi yang menghidupkan seorang aku sebagai seorang kamu juga. Ungkapan yang membuat liang dalam dirinya seperti terbuka dan mengisap semua keangkuhan dan perbedaan ke dalam konstruksi kekosongan. Ungkapan yang membuat mereka tahu bahwa hutan juga memiliki ruang dalamnya. Seperti ruang tamu yang terbuat dari aspal, batubara, berbagai logam, gas, dan minyak tanah.

Aku tidak bisa melihat ketiga makhluk itu. Aku merasakan mereka hanya melalui perpindahan gerak angin saat mereka berjalan di sampingku atau melalui dengus mereka. Mereka tidak bisa aku lihat. Tetapi mereka ada. Mereka seperti menggerakkan tanganku untuk menuliskan semua ini, sebagai penulis yang dipinjam.

Awalnya aku melihat seorang gadis yang berjalan bersama seekor kelinci berwarna merah dalam hutan itu. Gadis dan kelinci berwarna merah yang berada di tengah hutan seperti ini telah membuatku takjub. Aku seperti baru saja bertemu dengan kehidupan lain. Aku mengikuti gadis bersama kelinci merah itu. Sekali-kali gadis itu menoleh ke arahku. Tetapi mereka tetap berjalan, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Kelinci merahnya melompat-lompat. Matanya hitam, jernih, tanpa prasangka. Bulu lembutnya seperti menyimpan cahaya. Daun telinganya yang panjang menjulang ke atas. Kadang kelinci itu menatapku, lalu melompat-lompat lagi mengejar gadis itu. Kadang aku kehilangan mereka. Kadang mereka terlihat lagi, masih terus berjalan seperti sebelumnya. Kadang mereka seperti berada di sebuah padang rumput yang tidak ada batasnya, mengubah hutan menjadi hamparan rumput yang memenuhi seluruh yang bisa kulihat.

“Siapakah gadis itu? Siapakah kelinci merah itu?”
Setiap pergantian tahun, Pendeta Bumi, yang telah ada sebelum keterperangkapan ketiga makhluk itu, melakukan upacara Seren Taun, upacara pergantian tahun dengan seluruh umatnya sebagai Urang Kanekes, Baduy. Upacara yang sama juga berlangsung di Kanekes, Lebak, Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi, Kampung Naga, Cigugur, dan Kuningan. Sebuah agama Buhun yang telah ada jauh sebelum agama-agama polytheis dan monotheis menguasai dunia. Mereka menjaga hidup melalui pikukuh yang mereka rawat.

Mereka semua, sebagai urang Kanekes yang jumlahnya 11.174, termasuk anak-anak kecil, duduk bersila dalam upacara itu. Semuanya mengenakan pakaian putih-putih dan hitam-hitam, tanpa alas kaki. Mereka berkumpul seperti hutan dalam arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bicara atau bercakap-cakap. Mereka duduk seperti mandita, bertapa untuk menjaga harmoni hutan. Ketika mereka mulai bernyanyi bersama, jumlah 11.174 orang itu tetap merupakan bagian dari arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak berubah menjadi kekuasaan mayoritas. Partitur-partitur kekosongan mengalun melalui nyanyian mereka.

Nyanyian merdu dan indah yang membuat seperti ada angin berembus dari tubuh mereka, gemericik air sungai, bahkan tanah tidak merasakan kehadiran dan keberadaan mereka. Mereka yang hanya hidup dengan cara tidak ingin mencelakakan orang lain atau melakukan yang tidak disenangi orang lain. Mereka mengikuti jalan air, bukan jalan api. Antiperang, melukai atau membunuh. Kalau kamu mau hidup, yang lain juga boleh hidup.

Pendeta Bumi menyatakan tiga syarat untuk bisa membebaskan diri dari bumi: melanggar adat istiadat, menjadi gila atau bunuh diri. Ketiga orang makhluk itu seperti terbakar mendengar persyaratan itu. Mereka sudah tidak tahan berada di bumi. Tidak tahan berada bersama planet yang tidak masuk akal ini, di mana kehidupan dijalani hanya untuk menunggu datangnya kematian. Dan selama penungguan itu, orang menciptakan berbagai versi kehidupan: berbuat jahat kepada orang lain atau berbuat baik. Membunuh orang lain atau menyelamatkan orang lain. Menguasai atau membebaskan. Merampok orang lain atau menolong orang lain. Korupsi atau hidup dari kerja keras yang dilakukan sendiri. Bertemu atau berpisah. Mengakui kepercayaannya sendiri, tetapi menyerang kepercayaan yang lain.

Mereka mulai terbakar mendengar ketiga persyaratan itu. Semakin besar api membakar mereka untuk bisa membebaskan diri dari dunia, mereka merasa semakin terperangkap dalam bumi. Lapisan-lapisan perangkapnya semakin bertambah banyak. Setiap lapisan dipenuhi teriakan, jeritan, dan tangisan. Benda-benda di sekitar mereka bertambah banyak. Benda-benda untuk tidur, untuk mandi, untuk makan, untuk berjalan, untuk melihat, untuk berkata-kata, untuk mencium, untuk membeli dan menjual. Padahal tubuh mereka hanya satu, tunggal. Tetapi benda-benda yang mengelilingi mereka membuat tubuh dan diri mereka menjadi majemuk. Mereka berjalan dan hidup bertambah berat bersama dengan seluruh benda itu. Napas dan jantung mereka kian sesak.

Mereka bertiga saling melihat dan saling menunggu, syarat apa yang harus mereka ambil di antara ketiga syarat itu agar mereka bisa membebaskan diri dari perangkap bumi? Semakin mereka saling melihat, tubuh dan diri mereka bertambah majemuk. Bertambah banyak dengan lipatan 3, dan lipatan 3 lagi, dan lipatan 3 lainnya yang tak ada ujungnya. Akhirnya mereka melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Mencoba mendengar tubuh mereka di luar bahasa. Mereka mulai memasuki tubuh mereka sendiri seperti memasuki air yang dipenuhi akar-akar tanaman dan daun-daunan. Bau rempah-rempah dan bau sperma.

Aku lihat gadis bersama kelinci merah itu melayang-layang dalam hutan. Ia menyanyikan nyanyian cinta yang tidak kumengerti. Tubuhnya mengeluarkan uap yang wangi. Tubuh yang seakan-akan diciptakan dari wangi kembang melati.

Punten,” kataku kepada gadis itu, ketika ia melayang di atas kepalaku. Gadis itu hanya tersenyum, lalu kembali menghilang dalam kerimbunan hutan. Tetapi wangi kembang melatinya seperti menetap. Upacara kemudian berakhir. Penguasa bumi dan umatnya meninggalkan tempat upacara. Hutan kembali hening. Suara-suara serangga, burung, dan binatang-binatang lainnya mulai kembali terdengar.

Ketiga orang makhluk itu tidak menempuh satu pun dari 3 persyaratan untuk bisa meninggalkan bumi. Mereka memilih diam, bisu, seperti para Urang Kanekes itu. Mereka mulai belajar melupakan bahasa. Belajar untuk tidak percaya bahwa mereka berpikir. Belajar tidak melihat dengan melihat. Belajar berjalan dengan tidak berjalan. Mereka mulai membatalkan suara-suara serangga dalam hutan itu dengan mendengar untuk tidak mendengar. Membatalkan seluruh isi hutan dengan melihat tanpa mengakui yang dilihat.

Mereka mulai merasakan telah memasuki ketiga persyaratan itu tanpa patuh dan tanpa mengikuti ketiga persyaratan itu. Yaitu dengan cara tiada. Menjadi yang hyang. Bersembunyi agar “ada” tidak menjebloskan mereka kembali ke dalam fiksi “keberadaan”. Ketiga orang makhluk itu lalu mulai melihat yang dilihat menjadi mengelotok, mengelupas, lalu berubah menjadi yang tak terlihat. Pohon, daun-daun, batang-batang pohon, batu, lumut, tanah, serangga, burung, semua dalam hutan itu mulai mengelotok, mengelupas, dan berubah menjadi yang tak terlihat. Semuanya bergerak menjadi yang hyang, yang hilang tetapi ada. Tak terlacak, tetapi ada.

Gadis bersama kelinci merah itu kembali muncul. Ia berdiri di atas sebuah batu besar. Kelinci merahnya melompat-lompat, berjalan ke arahku. Kedua daun telinganya seperti antena yang bergerak-gerak. Kelinci merah itu kini telah berada di depanku. Aku menyentuhnya, lalu memeluk dan menggendongnya. Ia mulai mengendus-endus hidungku, seperti berusaha mengenali bau tubuhku. Lalu ia mengembuskan napasnya berkali-kali ke hidungku. Aku mengisap bau napasnya. Gadis itu memanggilnya. Kelinci merah bergerak, dan melompat dari gendonganku, berlari ke arah gadis itu.

Mereka kemudian kembali menghilang. Kini sunyi. Suara serangga juga tidak terdengar. Aku mencoba mengingat kembali bau napas yang dikeluarkan dari hidung kelinci itu. Aku mencoba membandingkannya dengan bau napasku sendiri, dengan cara mengembuskan napasku ke telapak tanganku yang kubuat seperti bentuk mangkuk. Lalu aku mencium bau bekas napasku yang masih tertinggal di telapak tanganku.

Bau napasku ternyata sama dengan bau napas kelinci merah itu.
Setelah peristiwa itu, aku tidak pernah melihat bayanganku lagi. Tubuhku seperti tidak memiliki lagi bayangan, walau cahaya datang dari berbagai sudut. Sementara itu ketiga orang makhluk itu, kini tinggal di hulu sebuah sungai. Sungai Ciujung di pegunungan Kendeng. Mereka hidup hanya untuk menjaga air di hulu sungai itu. Mereka tidak lagi meminjam tanganku untuk menulis. Karena air terus mengalir, menulis kisah-kisahnya. (*)
 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget