Februari 2019

Ukuran Pendidikan 

Apa ukuran keberhasilan pendidikan? Perubahan apa yang dihasilkan dari proses pendidikan? Ciri apakah yang sepatutnya ada pada mereka yang menyebut dirinya kaum berpendidikan?
Mendapati stiker yang tertempel di meja di food court salah satu gerai home furnishing terkemuka, saya merasa bagus juga untuk terus terang langsung mengingatkan. Tergelitik juga karena dengan memakai kata mohon, seakan-akan apa dihimbau adalah sesuatu pekerjaan yang berat padahal merupakan kewajiban yang secara alamiah lahir karena sudah menggunakan meja dan kursi.
Tadinya tergelitik berubah menjadi miris karena sambil menikmati kopi dan kudapan manis kami melihat satu demi satu pengunjung pergi begitu saja setelah selesai makan, padahal tersedia rak di arah keluar siap menampung nampan, piring dan gelas juga tempat sampah yang setia mewadahi sampah. Ketika menilik lebih teliti saya mendapati juga makanan yang terbuang percuma, bahkan ada semangkok penuh saos tomat dan dressing yang belum terjamah.
Menurut anda siapa target pasar dari gerai home furnishing ini? Jika dilakukan survei, apakah tingkat pendidikan mereka dan berapakah penghasilan mereka? Lumayan jadi bahan diskusi yang menarik dengan anak-anak terutama soal karakter tanggung jawab dan menghormati hak orang lain. Bisa membayar tidak menjadikanmu berhak melalaikan kewajibanmu. Membersihkan meja makan bukan pertolongan yang kamu hadiahkan kepada pengguna selanjutnya melainkan pembuktian bahwa kamu seorang manusia beradab. Demikian juga menyia-nyiakan sumber daya alam dengan membuang makanan sama dengan merebut hak orang lain dan tidak menghargai upaya orang yang menanam dan menyiapkannya.

By : Seorang Ayah
Via line AyoKuliah



MY VALENTINE
Judul Buku      : My Valentine
Penulis             : Hanna Al – Ithriyah
Terbit               : Gema Insani
Cetakan           : 1, Dzulqa’idah 1427 H / November 2006 M
Tebal               : 192 halaman

Resensi

           Hanna Al-Ithriyah, penulis muda berbakat ini masih bersekolah di Madrasah Aliah (P1) Annuqayah, Sumenep, Madura, Lahir di Sumenep, 22 desember 1985, karyanya yang berjudul “Selaka Rindu Dinda“ berhasil memperoleh juara hiburan pertama pada lomba SMCI Gema Insani dan di bukukan dalam antologi cerpen pemenang sayembara yang judulnya diambil dari judul cerpennya, “ Selaka Rindu Dinda“.
        
        Kali ini, Hanna Al-Ithriyah kembali meluncurkan buku kumpulan cerpen karyanya yang berjudul “My Valentine“ yang berisi sebelas cerita dengan karakteristik yang berbeda di setiap ceritanya. Kumpulan cerpen “My Valentine“ secara tidak langsung membuat ketertarikan ingin membacanya. Yang paling mempengaruhi itu adalah judulnya, yang sudah familiyar dengan remaja-remaja. Banyak orang yang salah memprediksikan isi buku ini, karena mereka melihat dari judulnya, padahal isinya sangat berbeda dengan yang mereka prediksikan. Selain itu bahasanya sangat mudah dimengerti walaupun ada sebagian kata yang memakai bahasa arab dan madura tetapi di akhir cerita diberikan keterangannya.

        Diantara sebelas cerita, ada 3 cerita yang terlihat paling menyentuh hati dan mengharukan. Ketiga cerita itu adalah “Dialog Alam Barzah“, “H Minus 7 (My Valentine)”, “Donat“. Ketiga cerita ini mengandung makna yang sangat dalam. Bisa dilihat dari cerita “Dialog Alam Barzah“ menceritakan tentang amalan seseorang yang tidak menjamin masuk surga yaitu menceritakan di 24 orang hamba Allah, yang salah satu dari mereka adalah ahli ibadah, ternyata seorang ahli ibadah tidak menjamin dia akan masuk surga karena orang tersebut belum bisa menghindari penyakit hati.

        Ternyata yang masuk surga adalah orang yang selalu menjaga agar hatinya selalu bersih dari penyakit hati. Dalam cerita ini bahasa yang digunakan sangat mudah dimengerti seakan-akan kita menyaksikan langsung kejadian tersebut.

        Dicerita yang kedua bahasa yang digunakan yaitu bahasa gaul anak remaja sekarang yang berjudul “H Minus 7 (My Valentine)“ isinya menceritakan seorang anak muda yang bernama Boy. Anak muda ini sedang mencari pasangan untuk merayakan hari valentine, ternyata cewek-cewek di sekolahnya sudah mempunyai gandengan. Yang belum hanyalah anak Rohis. Ia diperkenalkan oleh temannya dengan seorang akhwat dan temannya memberi saran untuk secepatnya mengirim sebuah kado dan sekotak coklat.
Boy mengikuti saran temannya itu. Setelah itu Boy mendapat bingkisan itu kembali dan didalamnya terdapat secarik kertas yang didalamnya berisi penolakan menerima bingkisan Valentine itu. Akhwat itu menolak ajakan dan pemberian bingkisan itu, lalu akhwat itu menjelaskan alasannya dan memberi pesan yang sangat menyentuh hati sehingga bisa membuat Boy kembali mendekat kepada Allah SWT.

        Dicerita yang ketiga “Donat“ isinya kita ambil hikmah yang sangat besar karena ceritanya sangat menyentuh hati, sampai bisa membuat menangis pembacanya dan sangat membuat penasaran karena judulnya seperti komedi. Didalamnya menceritakan sebuah keluarga yang harmonis, seorang ibu yang mempunyai dua orang anak yang bernama Yuli dan Ipit. Ipit anak yang paling kecil, dia sangat suka makan donat. Sehari saja dia tidak makan donat dia pasti mayur dan bertingkah tidak karuan. Suatu hari dia masuk rumah sakit, ternyata dia mengidap penyakit turunan dari ayahnya yaitu penyakit diabetes. Tidak berapa lama Ipit meninggal dunia. Cerita itu sangat mengharukan dibanding cerita yang lain.

        Kesimpulan cerpen ini sangat bagus karena bisa membuat pembacanya penasaran dan semua makna ceritanya sangat mendalam, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil di buku itu, bahasanya tidak berbeli-belit tapi sangat mudah dimengerti.
Setelah membaca buku kumpulan cerpen “My Valentine‘ karya Hanna Al-Ithriyah, sangat berdampak positif terhadap pembacanya dan banyak sekali hikmah yang bisa diambil, selain itu bisa menjadikan kita sadar dalam dalam menjalani hidup ini. Kelebihan yang paling menonjol didalam buku ini adalah judulnya yang sangat bagus karena judul itu seperti mendeskripsikan isinya cerita yang bukan islami, tetapi kenyataanya isinya itu sangat islami. Kumpulan cerpen ini mempunyai beberapa kekurangan yaitu alur ceritanya kurang bisa mengerti dan jalan semua ceritanya terlalu lambat.

Kepada Tiankong, Langit Yang Jauh
Karya Naning Pranoto
Sumber: Kompas, Edisi 12/15/2002 


OHHHH... wangi! Tiba-tiba tercium wanginya aroma melati. Bisa kupastikan, lebih wangi dari aroma peri dalam dongeng yang pernah dituturkan oleh almar-humah mbah buyut-ku. Tetapi, cerita yang kutulis ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dongeng mbah buyut-ku itu. Melainkan sesuatu yang kujumpai di dalam pesawat, yang menerbangkanku dari Singapura ke Jakarta.

Ternyata, aroma melati itu tidak hanya menghentak daya penciumanku, tetapi juga pencium
an orang-orang sekitarku. Khususnya mereka yang duduk di VIP-seats, bersumbernya embusan aroma wangi tersebut. "Wowww!" tiba-tiba kudengar bisik-bisik di sekitarku ketika muncul seorang perempuan muda mencari-cari seat. Ia bertubuh tinggi semampai, berkulit warna almond, bergaun panjang, ketat, warna merah darah. Rambutnya hitam legam, panjangnya sebahu diurai lepas. Tangan kirinya menjinjing kopor kecil dan tangan kanannya membawa barang yang dikantungi kain sutera keemasan. Matanya yang dibingkai alis tebal tampak berbinar-binar. Pikirku spontan, rupanya dialah si peri, sumber wangi aroma melati. Ia lalu kunamai Si Peri."Number ten-bi...! Yes, it's mine. Sorry!" kata Si Peri, suaranya lembut, Inggrisnya beraksen Amerika kental. Perilakunya santun.

Ia menghampiriku yang duduk di seat nomor 10-A. Ternyata seat-nya nomor 10-B. Jadi, ia duduk di sampingku? Astaga! Jantungku berdetak cepat. Itu, bukan karena aroma wangi melati segar yang menebar dari tubuhnya, melainkan, karena action Si Peri. Ia menaikkan kopernya ke bagasi yang ada di atas seat, belahan gaun panjangnya membuka dan pahanya yang mulus tampak kemana-mana. Paha itu menjadi perhatian banyak orang. Tetapi ia tampak tenang-tenang saja. Dengan kalem ia menutup bagasi, lalu duduk di sampingku sambil menyapaku dengan renyah, "Hello, how are you?""Good! Thanks!" sahutku kikuk dalam mengimbangi suara renyahnya. Kata teman-temanku, aku memang jenis pria yang suka kikuk dalam menghadapi perempuan, apalagi perempuan asing-yang belum dikenalnya.

Tetapi, kekikukan yang kali ini berbeda dengan kekikukan yang biasanya kurasakan. Biasanya, aku merasa kikuk menghadapi perempuan karena aku merasa tidak punya bahan menarik, yang bisa kusajikan sebagai bahan pembicaraan. Sedangkan kekikukanku kali ini, karena aku terheran-heran oleh penampilan Si Peri yang superwangi dan keberaniannya dalam berbusana.

Apa sih profesinya?. Apakah ia seorang foto-model? Atau ia seorang semacam call-girl? Ahh, otakku jadi kotor menuduhnya yang tidak-tidak."Maaf. Boleh tahu? Anda mau ke Jakarta atau ke Bali?" tanyanya, beberapa menit setelah pesawat take-off menuju Jakarta. Sungguh, pertanyaannya mengejutkanku, karena aku sedang memikirkan profesinya."E... saya mau ke Jakarta. Anda? Anda mau kemana?" sahutku agak gugup, karena tidak menyangka sama sekali kalau ia mau menegurku."Saya mau ke Tian-Tiangkong untuk melaksanakan li, yaitu berbakti kepada keluarga!" sahutnya cepat."Anda mau ke Tian-Tiankong untuk berbakti kepada keluarga? Sungguh mulia niat Anda. Tetapi, di mana Tiankong itu?" tanggapku spontan, karena merasa asing terhadap tempat yang disebutnya."O, sorry, saya berbahasa Mandarin," ralatnya, "...ee.. maksud saya, Tian-Tiankong itu artinya Langit. Tapi, bisa juga dimaknakan Surga. Ya, saya mau ke Langit. 

Langit Yang Jauh...! Ke Surga!""Maksud Anda?" keningku spontan berkerut."Nah...nah... Anda bingung kan? Anda tidak tahu di mana letak Langit Yang Jauh?" ia tersenyum, "Itu, negeri yang kata waipo-ya, ya kata nenek saya, Tiankong itu sebuah negeri yang sangat indah, seindah Surga.

Puluhan tahun ia merindukannya!" senyumnya tiba-tiba menghilang, tergantikan kerut-kerut bibir gemetar, menahan tangis. "...tapi, kerinduannya tidak pernah terwujud secara nyata." Ia mengusap butir-butir airmatanya yang meleleh di kedua pipinya.Aku bingung. Aku tidak memahami alur pembicaraannya. Maka, aku lalu memberanikan diri untuk minta penjelasan. "Hem...Miss...,""Nama saya Peony. Maksud saya Peony Wu...," ia memenggal kalimatku."Ya, Miss Peony, maafkan saya. Saya tidak memahami apa yang Anda bicarakan. 

Maukah Anda memperjelasnya?" pintaku, karena penasaran."Tentu saja Anda tidak memahaminya, karena alur pembicaraan saya rancu. Itu, karena saya tidak tahu, dari mana saya harus memulainya. Materinya terlalu panjang dan rumit. Ini menyangkut sejarah.""Menyangkut sejarah? Sejarah apa?" aku semakin tidak mengerti."Sejarah perjalanan hidup orang-orang Tionghoa di Indonesia paska Perang Kemerdekaan Indonesia sampai dengan detik-detik meletusnya G 30 S PKI. Nah, nenek saya termasuk di dalamnya...""E, nenek Anda, pernah tinggal di Indonesia?" tiba-tiba aku menemukan clue kemana arah pembicaraan Si Peri yang mengaku bernama Peony Wu."Yes! Anda cerdas. 
Saya suka," mata Peony yang semula redup, kembali berbinar. 

"Jadi, Anda paham apa yang saya maksud dengan Langit Yang Jauh?""Indonesia?" aku menebak dengan ragu-ragu."Yes, absolutely correct! Thanks!" ia bersorak, sambil mengguncang-guncang tanganku, "Anda cerdas!" pujinya berkali-kali. Pujiannya membuatku jadi merasa akrab dan dekat dengannya. Maka, kulanjutkan dialogku dengannya, "Jadi, Anda mau ke Indonesia? Ke kota mana?" tanyaku kemudian.

"Ke Batu-Malang. Di kota itu nenek saya lahir, dibesarkan dan menikah serta punya tiga anak. Setelah menikah, ia dagang palawija, di Surabaya. Waktu perang kemederkaan ia menyumbangkan dagangannya untuk dapur umum, memberi makan para pejuang. Itu, karena kecintaannya terhadap Indonesia.

Ironisnya, tahun '62, ia dipulangkan oleh pemerintah Indonesia ke Tiongkok, karena nenek saya tidak mau ganti nama Indonesia. Nenek saya bilang, ia terkena PP-10. Anda tahu peraturan itu?" ia memandangiku."Maaf, saya tidak tahu!" aku berterus terang."Sama. Yang saya tahu, karena PP-10 itu nenek saya kembali ke Tiongkok. Karena ia lahir dan besar di Indonesia, maka ia merasa asing terhadap Tiongkok. Keterasingannya itu membuatnya gamang dalam menjalani hidup,di Tiongkok, apalagi ketika Mao Zedong memproklamirkan Revolusi Kebudayaan. Nenek saya sempat gila karena disiksa oleh student yang menjadi Red Guard Mao. Itu, gara-gara nenek saya penganut Kong Hu Chu yang taat. Untung, ia bersama sepupunya berhasil melarikan diri ke Macao. Tetapi kedua anaknya hilang. Yang hidup tinggal ibu saya yang kemudian menikah dengan orang Portugis...!""O, jadi Anda berdarah Portugis?" selaku, sambil mengamati wajahnya yang memang tidak mirip Tionghoa."Ya, saya ini blasteran Tionghoa-Portugis, lahir di Macao, besar di Amerika.

Kemudian, saya sekarang punya usaha di Singapura, buka butik!""O, makanya Anda modis." Komentarku tentang dirinya. "Oiya, nenek Anda sekarang di mana?" tanyaku, karena aku ingin tahu keberadaan neneknya."Nenek saya sekarang di sini! Di pesawat ini!" ia memandangiku, "...karena dia sedang menuju ke Langit Yang Jauh. Suatu tempat yang ia rindu-kan...""Ah, Anda jangan bercanda," tanggapku serius."Saya tidak bercanda. Nenek saya sekarang memang sedang berada di pesawat bersama saya, bersama Anda dan bersama semua penumpang pesawat ini," lagi-lagi ia memandangiku. Kemudian, ia mengambil sesuatu dari kantung sutera warna keemasan yang tadi kulihat dibawanya, "Nenek saya ada di sini. Di dalam botol perak ini!" ia menunjukkan ujung botol yang ada di kantung sutera."Ohhh...," aku tidak bisa berkata apa-apa selain menarik nafas."Nenek saya meninggal dua bulan yang lalu, usianya 78 tahun.

Ketika ia dipulangkan ke Tiongkok, usianya 38 tahun. Jadi, selama 40 tahun ia merindukan Indonesia yang disebutnya sebagai Langit Yang Jauh. Ia menyebut demikian karena untuk ke Indonesia baginya tidak mudah. Ia takut, kedatangannya ditolak pemerintah Indonesia. Maka, ia lalu berpesan, ketika meninggal minta dikremasi dan abunya ditaburkan di Gunung Sriti-Batu. Katanya, tempat itu sangat indah bak surga. Di Gunung Sriti ia punya kenangan manis, bertemu dengan seorang pemuda yang kemudian menjadi suaminya. Sayangnya, suaminya itu tidak mau menyertainya kembali ke Tiongkok. Ia memilih tinggal di Indonesia, mengganti namanya dengan nama Indonesia dan kemudian ia menikahi perempuan Boyolali. Kabarnya, ketika meletus G 30 S PKI, suami nenek saya itu dibunuh dengan cara yang keji oleh penduduk setempat, karena ia dituduh PKI!" mata Peony membasah lagi, "tapi, bagaimanapun nenek saya tetap menganggap Indonesia adalah Tiankong, sebuah Surga dan ia ingin menjadi salah satu penghuninya," sambung Peony tersenyum getir. Ia lalu mengajakku ke Batu- Malang, untuk melaksanakan li bagi neneknya.

Jakarta, akhir Oktober 2002
monoton27.blogspot.com     


Kisah Si Telepon Koin

Lusuh dan penuh noda itulah diriku. Selama bertahun-tahun aku hanya berdiam diri dipinggiran jalan, menunggu datangnya seseorang yang selama ini setia datang menemuiku. Bisingnya suara kendaraan berlalu lalang dan debu yang terus menerus menghinggapi badanku, sudah tak terasa lagi. Kini aku renta. Tidak adalagi yang mempedulikanku, terkadang aku hanya menjadi pelampiasan tangan-tangan jahil para manusia. Dikencingi, dilempari batu, hingga dicoreti. Entah sejak kapan mereka berubah menjadi buas seperti binatang.

Aku memang sebuah benda yang tak ada artinya saat ini. Sejak mereka bersekolah dan menemukan sebuah benda dengan kemampuan yang lebih canggih, aku mulai dikesampingkan bahkan tak pernah dianggap ada lagi. Menjadi penghias kota ? tentu bukan, badanku kini penuh coretan dan berbau pesing mana mungkin aku bisa mempercantik kota. Mungkin aku hanya membantu pada saat hujan turun, melindungi manusia dari air hujan. Itupun jika hujannya tidak terlalu besar.  Tidak dihargai itulah aku kini.

Padahal genggaman tangan dan lantunan kisah telah aku rasakan ribuan kali. Kisah cinta, bahagia, haru, kasih sayang, rindu, bangga, duka, pedih, kekecewaan, marah, penderitaan bahkan perjuangan telah aku rasakan. Aku adalah saksi mati kisah para manusia, tetapi mereka membuangku begitu saja.

Genggaman hangat itu aku rasakan 40 tahun yang lalu, seorang pengemis kecil selalu datang mendekatiku. Ia begitu antusias dan dipenuhi dengan rasa ingin tahu dikepalanya,tetapi badannya yang masih kecil tidak dapat menggapai aku yang tinggi. Hari itu pengemis kecil datang lagi namun ada yang berbeda, seorang pria tua berkemeja putih dengan gulungan di lengannya menghampirinya. Ia tersenyum geli kemudian mulai menceritakan apa yang ingin diketahui oleh pengemis kecil itu.

Hampir setiap hari mereka berdua datang menemuiku dan bercerita. Genggaman tangan pengemis kecil itu membuatku merasa hangat. Tetapi terkadang disuatu malam ia datang sendiri menemuiku, genggamannya tiba-tiba bergetar hebat diselingi isakan kecil kemudian ia bercerita begitu pilu.

Di akhir pekan biasanya pengemis kecil dan pria bekemeja putih itu datang membawa ember dan kain lap. Mereka selalu membersihkan badan-badanku yang mulai kotor. Banyak orang yang memandang mereka aneh tetapi adapula yang memandang mereka dengan tatapan hangat. mereka tidak terlalu memperdulikan tatapan aneh dari orang-orang dan terus saja membersihkan badanku diakhir pekan.

Hari-hari terlewati, bulan-bulan berganti dengan tahun, si pengemis kecil dan pria tua berkemeja putih semakin akrab bercerita sambil menggenggamku. Hingga pada suatu malam pria tua itu datang dan bersandar dikakiku yang dingin, ia menempelkan secarik kertas di dinding badanku tertatih-tatih. Aku tahu kertas kecil itu tentu pesan yang ia tinggalkan untuk si pengemis kecil esok hari.

Pria tua berkemeja putih itu semakin melemah bersandar dikakiku, hembusan angin malam semakin kencang dan udara semakin terasa dingin. Pria tua itu tetap tersenyum hingga nafasnya perlahan-lahan tak terdengar lagi. Aku bisa merasakan tubuhnya mulai kaku, dan angin malam mengiringinya pergi dengan tenang.

Kicauan burung mulai terdengar, seiring sayup-sayup suara segerombolan orang mulai berdatangan mengelilingiku. Mereka menemukan jasad pria tua berkemeja putih bersandar sambil tersenyum dikakiku. Biarkan aku menjelasakannya! ia sedang tertidur dengan tenang! tolong jangan beritahu si pengemis kecil! tetapi usahaku nihil, aku tetaplah aku. Aku hanya sebuah benda dipinggir jalan, tidak ada satupun benda bisa berbicara.

Dalam kerumunan itu tiba-tiba menyusuplah pengemis kecil, ketika tahu apa yang ia dapati. Ia hanya bisa menatap lurus kearah pria tua berkemeja putih, air matanya tak dapat berhenti menetes. Sampai pada akhirnya jasad pria tua itu dibawa pergi, si pengemis kecil tetap tak bergeming, ia tetap menangis sesekali menahan isakannya.

Satu minggu berlalu pengemis kecil itu masih menggenggamku dan bersandar dikakiku yang dingin. Ia tak henti-hentinya becerita seolah-olah ia bercerita dengan si pria tua berkemeja putih. Ia bercerita tentang segala hal termasuk tentang mimpinya terkadang sampai ia tertidur.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti dengan tahun si pengemis kecil terus bertumbuh besar, ia tetap menjagaku seperti yang ia lakukan ketika bersama pria tua berkemeja putih. Namun ada yang berbeda, kini ia bukanlah pengemis lagi, impiannya terwujud. Apa yang ia ceritakan menjadi nyata. Terkadang ia menghabiskan satu malam bersandar dikakiku sambil bercerita. Aku tahu jauh diseberang jalan sana, pria tua berkemeja putih memperhatikannya dengan tatapan hangat sambil tersenyum.

Semenjak malam itu aku tak pernah lagi bertemu dengan pengemis kecil yang sudah berubah menjadi pria dewasa. Tak ada lagi yang merawatku, tak ada lagi cerita panjang, dan tak ada lagi genggaman sehangat itu. Hingga saat ini, hingga aku renta dan berbau pesing. Sudah 30 tahun berlalu, aku masih tetap menunggu kedatangannya.

Angin malam bertiup dengan kencang, suasana malam ini seperti kembali ke masa 35 tahun yang lalu, saat si pria tua tertidur dengan tenang dikakiku. Samar-samar bayangan itu mulai mendekatiku, aku bisa merasakan ada yang menyentuhku. Aku  bisa mengenalinya, dia si pria tua berkemeja putih. Dia datang ! sejenak ia memperhatikanku dengan mata nanar dan sedih, sedih melihat keadaanku yang renta tidak terawat. Kemudian ia menggenggamku dan memperhatikan tombol yang berderet rapi. Memperhatikan setiap detail badanku yang usang.
Aku rasa dia sama denganku, merindukan kedatangan si pengemis kecil yang tiba-tiba pergi tak kembali.

Siang ini matahari begitu terik tetapi anginnya terasa sejuk, dari kejauhan terlihat  seorang pria paruh baya menggandeng gadis kecil berkucir dua. Mereka membawa ember dan kain lap, datang menghampiriku. Si gadis kecil itu bertanya penuh heran kepada pria itu, untuk apa mereka membersihkan aku. Pria paruh baya itu mulai bercerita sambil membasuh badanku yang bau ini  dan mengusapnya perlahan. Aku bisa mengenalinya, dia adalah si pengemis kecil yang aku rindukan.

Setelah mereka selesai, pengemis kecil yang sudah bertumbuh menjadi pria paruh baya itu mengajari gadis kecil berkucir dua menggenggamku. mereka mulai bercerita, tertawa dan bahagia. Angin semilir perlahan menerpaku  membuat kertas yang tertempel di badanku berbunyi. Ternyata itu menarik perhatian  gadis kecil berkucir dua, ia mengambilnya dan memberinya kepada si pria paruh baya.

Butiran airmata mulai bejatuhan di pipi pria itu, ia tersenyum sambil memeluk gadis berkucir dua. Rasa hangat perlahan menjalar lagi, aku tahu kisah ini akan mulai mengalun indah kembali. Walaupun aku hanya sebuah telepon koin tua yang tak berguna.

http://ceritanisaasin.blogspot.com/2013/03/kisah-si-telepon-koin.html?m=1
SELASA, 12 MARET 2013

Cerpen Kelinci Merah
Oleh Afrizal Malna
(Kompas, 11 November 2012)


BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan.

Membuat partiturnya sendiri melalui daun-daun yang tumbuh, layu, dan membusuk. Siklus kehidupan dan kematian yang rumit dan kompleks berlangsung sepanjang hari dalam hutan itu, seperti sebuah pertapaan untuk waktu.

Matahari membuat penggaris-penggaris cahaya, mengukur jarak daun menjelang tumbuh dan layu. Laba-laba membuat sarang dari air liurnya, mengubah waktu seperti jaring-jaring kematian. Daun kering melayang jatuh. Semuanya seperti anak-anak kalimat yang membuat sayatan lain dalam induk kalimatnya. Sebuah generalisasi yang justru berlangsung untuk mengukuhkan perbedaan dalam pelukan hutan.

Hutan dengan langit-langit kecilnya di antara daun-daun kering yang melayang jatuh, menyimpan kenangan tentang yang berlalu dan berulang. Akar-akarnya saling menjalin, merajut tanah dengan air yang membasahinya. Waktu membangun arsitektur keheningan di dalamnya, terjalin dalam konstruksi kekosongan.

Krak”
Sebuah dahan patah dan jatuh. Lepas dari batang pohonnya. Patah dan jatuh yang tak terbayangkan. Seperti ada pesawat yang gemetar pada setiap pohon tua dalam hutan itu. Hutan hanya membuat jalan melalui sungai yang dibentuknya sendiri berdasarkan gerak dan berat air, menelusuri relung-relung tanah. Ke bawah dan ke bawah, menemui relung-relung lainnya. Jalan yang tidak pernah berbalik melawan hutan itu sendiri. Uap putih tipis terus membubung, berangsur-angsur, dari daun-daun yang membusuk menjadi udara. Tak ada halaman belakang dan tak ada halaman depan. Sebuah sirkuit kehidupan dan kematian yang tidak memisahkan kedatangan dan kepergian. Ruang yang membatalkan semua awal dan akhir. Denyut hutan menembus ke dalam yang bukan aku lagi.

Nama hutan itu Arca Domas. Dilindungi oleh pikukuh, ketentuan adat yang tak boleh dilanggar. Pikukuh yang membatalkan listrik dan mesin, pikukuh yang tak boleh melukai tanah. Tanah tidak boleh digali, dipacul atau dibajak. Kontur tanah harus tetap terjaga dari erosi. Tanah hanya boleh ditusuk dengan bambu yang ujungnya telah diruncingi untuk kemudian ditanami. Pikukuh yang melarang menggunakan sabun, kaca maupun cermin. Pikukuh yang terus-terusan membatalkan perubahan. Kayu panjang tak boleh dipotong, kayu pendek tak boleh disambung.

Dalam hutan Arca Domas itu, sepanjang waktu yang terdengar hanyalah berbagai jenis suara serangga, burung, dan suara binatang lainnya. Tidak ada suara lain. Kini, hutan dalam rajutan berbagai frekuensi tinggi-rendahnya desing suara serangga, berulang, konstan, terdapat tiga orang makhluk. Mereka bertiga merasa telah terperangkap hidup di bumi melalui sebuah peristiwa yang tidak mereka mengerti. Peristiwa itu terjadi begitu saja. Berangsur-angsur, seperti berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Mereka bertiga juga tidak tahu asal-usul mereka.

Telah berhari-hari ketiga makhluk itu mondar-mandir dalam hutan itu, memakan apa saja yang bisa mereka makan. Di bumi, untuk pertama kalinya mereka merasakan tentang lapar, lelah, dan sakit. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal hidup, usia, waktu, cinta, kesepian, bosan. Sesuatu yang harus membuat mereka waspada. Mulai mengenal kesedihan, kebahagiaan, kenangan, dan kematian. Untuk pertama kalinya juga mereka mengenal tentang konsep Tuhan, alam semesta, dan keturunan. Konsep-konsep yang aneh karena mereka sendiri tidak tahu bagaimana lumut diciptakan. Bagaimana tanah ada. Kesadaran yang kemudian lebih banyak dipelihara melalui kepanikan, seakan-akan ada dunia lain sebelum ada dan setelah ada yang membayanginya.

Bayangan yang membuat malam dan siang. Bayangan yang mulai membelah ruang di sana dan di sini. Mereka mulai belajar merangkak dalam hutan itu, belajar berdiri, berjalan, berjalan maju dan mundur, berputar, melompat, tidur dan belajar menghapus air mata. Belajar memanjat, mandi dan berenang di sungai. Belajar membedakan bentuk-bentuk dan warna, cuaca, membedakan bau tanah dan bau tubuh mereka. Belajar mengalami yang telah berlalu dan yang akan dilalui. Belajar membedakan antara aku, kamu, dan dia. Mereka mulai memberi nama-nama dari yang mereka alami, menjadi kata yang menyimpan pengertian-pengertian dari yang pernah mereka alami. Belajar membuat kalimat untuk menyimpan kisah-kisah dari yang mereka alami. Akhirnya mereka mengukuhkan keterperangkapannya melalui bahasa. Mereka ketakutan ketika mengetahui nafsu untuk hidup begitu menguasai mereka. Sehingga mereka mulai berburu, memakan binatang, memakan bentuk-bentuk kehidupan lainnya.

Punten”
Mereka terkejut sendiri dengan ungkapan ini. Rasanya dalam, seperti ada liang dalam diri mereka. Liang yang membuat tangan mereka seperti tenggelam ketika mengucapkannya. Punten.”Ungkapan permisi yang menghidupkan seorang aku sebagai seorang kamu juga. Ungkapan yang membuat liang dalam dirinya seperti terbuka dan mengisap semua keangkuhan dan perbedaan ke dalam konstruksi kekosongan. Ungkapan yang membuat mereka tahu bahwa hutan juga memiliki ruang dalamnya. Seperti ruang tamu yang terbuat dari aspal, batubara, berbagai logam, gas, dan minyak tanah.

Aku tidak bisa melihat ketiga makhluk itu. Aku merasakan mereka hanya melalui perpindahan gerak angin saat mereka berjalan di sampingku atau melalui dengus mereka. Mereka tidak bisa aku lihat. Tetapi mereka ada. Mereka seperti menggerakkan tanganku untuk menuliskan semua ini, sebagai penulis yang dipinjam.

Awalnya aku melihat seorang gadis yang berjalan bersama seekor kelinci berwarna merah dalam hutan itu. Gadis dan kelinci berwarna merah yang berada di tengah hutan seperti ini telah membuatku takjub. Aku seperti baru saja bertemu dengan kehidupan lain. Aku mengikuti gadis bersama kelinci merah itu. Sekali-kali gadis itu menoleh ke arahku. Tetapi mereka tetap berjalan, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Kelinci merahnya melompat-lompat. Matanya hitam, jernih, tanpa prasangka. Bulu lembutnya seperti menyimpan cahaya. Daun telinganya yang panjang menjulang ke atas. Kadang kelinci itu menatapku, lalu melompat-lompat lagi mengejar gadis itu. Kadang aku kehilangan mereka. Kadang mereka terlihat lagi, masih terus berjalan seperti sebelumnya. Kadang mereka seperti berada di sebuah padang rumput yang tidak ada batasnya, mengubah hutan menjadi hamparan rumput yang memenuhi seluruh yang bisa kulihat.

“Siapakah gadis itu? Siapakah kelinci merah itu?”
Setiap pergantian tahun, Pendeta Bumi, yang telah ada sebelum keterperangkapan ketiga makhluk itu, melakukan upacara Seren Taun, upacara pergantian tahun dengan seluruh umatnya sebagai Urang Kanekes, Baduy. Upacara yang sama juga berlangsung di Kanekes, Lebak, Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi, Kampung Naga, Cigugur, dan Kuningan. Sebuah agama Buhun yang telah ada jauh sebelum agama-agama polytheis dan monotheis menguasai dunia. Mereka menjaga hidup melalui pikukuh yang mereka rawat.

Mereka semua, sebagai urang Kanekes yang jumlahnya 11.174, termasuk anak-anak kecil, duduk bersila dalam upacara itu. Semuanya mengenakan pakaian putih-putih dan hitam-hitam, tanpa alas kaki. Mereka berkumpul seperti hutan dalam arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bicara atau bercakap-cakap. Mereka duduk seperti mandita, bertapa untuk menjaga harmoni hutan. Ketika mereka mulai bernyanyi bersama, jumlah 11.174 orang itu tetap merupakan bagian dari arsitektur keheningan dan konstruksi kekosongan. Tidak berubah menjadi kekuasaan mayoritas. Partitur-partitur kekosongan mengalun melalui nyanyian mereka.

Nyanyian merdu dan indah yang membuat seperti ada angin berembus dari tubuh mereka, gemericik air sungai, bahkan tanah tidak merasakan kehadiran dan keberadaan mereka. Mereka yang hanya hidup dengan cara tidak ingin mencelakakan orang lain atau melakukan yang tidak disenangi orang lain. Mereka mengikuti jalan air, bukan jalan api. Antiperang, melukai atau membunuh. Kalau kamu mau hidup, yang lain juga boleh hidup.

Pendeta Bumi menyatakan tiga syarat untuk bisa membebaskan diri dari bumi: melanggar adat istiadat, menjadi gila atau bunuh diri. Ketiga orang makhluk itu seperti terbakar mendengar persyaratan itu. Mereka sudah tidak tahan berada di bumi. Tidak tahan berada bersama planet yang tidak masuk akal ini, di mana kehidupan dijalani hanya untuk menunggu datangnya kematian. Dan selama penungguan itu, orang menciptakan berbagai versi kehidupan: berbuat jahat kepada orang lain atau berbuat baik. Membunuh orang lain atau menyelamatkan orang lain. Menguasai atau membebaskan. Merampok orang lain atau menolong orang lain. Korupsi atau hidup dari kerja keras yang dilakukan sendiri. Bertemu atau berpisah. Mengakui kepercayaannya sendiri, tetapi menyerang kepercayaan yang lain.

Mereka mulai terbakar mendengar ketiga persyaratan itu. Semakin besar api membakar mereka untuk bisa membebaskan diri dari dunia, mereka merasa semakin terperangkap dalam bumi. Lapisan-lapisan perangkapnya semakin bertambah banyak. Setiap lapisan dipenuhi teriakan, jeritan, dan tangisan. Benda-benda di sekitar mereka bertambah banyak. Benda-benda untuk tidur, untuk mandi, untuk makan, untuk berjalan, untuk melihat, untuk berkata-kata, untuk mencium, untuk membeli dan menjual. Padahal tubuh mereka hanya satu, tunggal. Tetapi benda-benda yang mengelilingi mereka membuat tubuh dan diri mereka menjadi majemuk. Mereka berjalan dan hidup bertambah berat bersama dengan seluruh benda itu. Napas dan jantung mereka kian sesak.

Mereka bertiga saling melihat dan saling menunggu, syarat apa yang harus mereka ambil di antara ketiga syarat itu agar mereka bisa membebaskan diri dari perangkap bumi? Semakin mereka saling melihat, tubuh dan diri mereka bertambah majemuk. Bertambah banyak dengan lipatan 3, dan lipatan 3 lagi, dan lipatan 3 lainnya yang tak ada ujungnya. Akhirnya mereka melihat ke dalam diri mereka masing-masing. Mencoba mendengar tubuh mereka di luar bahasa. Mereka mulai memasuki tubuh mereka sendiri seperti memasuki air yang dipenuhi akar-akar tanaman dan daun-daunan. Bau rempah-rempah dan bau sperma.

Aku lihat gadis bersama kelinci merah itu melayang-layang dalam hutan. Ia menyanyikan nyanyian cinta yang tidak kumengerti. Tubuhnya mengeluarkan uap yang wangi. Tubuh yang seakan-akan diciptakan dari wangi kembang melati.

Punten,” kataku kepada gadis itu, ketika ia melayang di atas kepalaku. Gadis itu hanya tersenyum, lalu kembali menghilang dalam kerimbunan hutan. Tetapi wangi kembang melatinya seperti menetap. Upacara kemudian berakhir. Penguasa bumi dan umatnya meninggalkan tempat upacara. Hutan kembali hening. Suara-suara serangga, burung, dan binatang-binatang lainnya mulai kembali terdengar.

Ketiga orang makhluk itu tidak menempuh satu pun dari 3 persyaratan untuk bisa meninggalkan bumi. Mereka memilih diam, bisu, seperti para Urang Kanekes itu. Mereka mulai belajar melupakan bahasa. Belajar untuk tidak percaya bahwa mereka berpikir. Belajar tidak melihat dengan melihat. Belajar berjalan dengan tidak berjalan. Mereka mulai membatalkan suara-suara serangga dalam hutan itu dengan mendengar untuk tidak mendengar. Membatalkan seluruh isi hutan dengan melihat tanpa mengakui yang dilihat.

Mereka mulai merasakan telah memasuki ketiga persyaratan itu tanpa patuh dan tanpa mengikuti ketiga persyaratan itu. Yaitu dengan cara tiada. Menjadi yang hyang. Bersembunyi agar “ada” tidak menjebloskan mereka kembali ke dalam fiksi “keberadaan”. Ketiga orang makhluk itu lalu mulai melihat yang dilihat menjadi mengelotok, mengelupas, lalu berubah menjadi yang tak terlihat. Pohon, daun-daun, batang-batang pohon, batu, lumut, tanah, serangga, burung, semua dalam hutan itu mulai mengelotok, mengelupas, dan berubah menjadi yang tak terlihat. Semuanya bergerak menjadi yang hyang, yang hilang tetapi ada. Tak terlacak, tetapi ada.

Gadis bersama kelinci merah itu kembali muncul. Ia berdiri di atas sebuah batu besar. Kelinci merahnya melompat-lompat, berjalan ke arahku. Kedua daun telinganya seperti antena yang bergerak-gerak. Kelinci merah itu kini telah berada di depanku. Aku menyentuhnya, lalu memeluk dan menggendongnya. Ia mulai mengendus-endus hidungku, seperti berusaha mengenali bau tubuhku. Lalu ia mengembuskan napasnya berkali-kali ke hidungku. Aku mengisap bau napasnya. Gadis itu memanggilnya. Kelinci merah bergerak, dan melompat dari gendonganku, berlari ke arah gadis itu.

Mereka kemudian kembali menghilang. Kini sunyi. Suara serangga juga tidak terdengar. Aku mencoba mengingat kembali bau napas yang dikeluarkan dari hidung kelinci itu. Aku mencoba membandingkannya dengan bau napasku sendiri, dengan cara mengembuskan napasku ke telapak tanganku yang kubuat seperti bentuk mangkuk. Lalu aku mencium bau bekas napasku yang masih tertinggal di telapak tanganku.

Bau napasku ternyata sama dengan bau napas kelinci merah itu.
Setelah peristiwa itu, aku tidak pernah melihat bayanganku lagi. Tubuhku seperti tidak memiliki lagi bayangan, walau cahaya datang dari berbagai sudut. Sementara itu ketiga orang makhluk itu, kini tinggal di hulu sebuah sungai. Sungai Ciujung di pegunungan Kendeng. Mereka hidup hanya untuk menjaga air di hulu sungai itu. Mereka tidak lagi meminjam tanganku untuk menulis. Karena air terus mengalir, menulis kisah-kisahnya. (*)
 



Judul Buku      : Kacamata Tanpa Bingkai
Pengarang       : Sori Siregar
Tahun Terbit   : 2004
Penerbit          : Kreasi Media Utama dan Nusa Agung, Jakarta
Cetakan          : Pertama
Tebal Buku     : 130 halaman

Resensi
          Sori Siregar dilahirkan di Medan tahun 1939. Dia merupakan salah satu cerpenis Indonesia yang mulai mengarang sejak tahun 1960 hingga sekarang. Tahun 1966-1970 Dia bekerja di seksi bahasa inggris, RRI Nusantara III Medan. Pada tahun 1970-1971, Dia mendapat beasiswa dari The Asia Foundation untuk mengikuti non-degre program di International Writing Program, The University of lowa, lowa city, lowa, USA. Selain menulis cerpen dan novel, Sori Siregar juga menulis kolom di beberapa media, antara lain, Matra, Tempo, Suasana, Forum Keadilan.
          Buku kumpulan cerpen ini memiliki banyak cerpen yang menarik salah satunya yaitu Nasihat. Cerpen ini menceritakan kehidupan tokoh “aku” yang dipenuhi dengan nasihat-nasihat cara hidup oleh tokoh paman dari tokoh aku. Nasihat-nasihat yang diberikan paman kepada tokoh aku membuat tokoh aku merasa bosan sampai, suatu nasihat yang berhubungan dengan kehidupan akhirat yang membuat tokoh aku tersadar dan mulai mengikuti nasihat-nasihat sang paman. Sampai suatu ketika, tokoh aku mendapatkan kehidupan ekonominya yang lebih baik ia harus memilih tetap mengikuti nasihat-nasihat pamannya atau melenceng sedikit dengan meningkatkan taraf  hidupnya.
          Salah satu cerpen menarik yang terdapat dalam buku kumpulan cerpen ini adalah Bohong. Cerpen ini menceritakan tentang banyak kebohongan yang terjadi dalam kehidupan yang dialami tokoh “saya” yang justru membuat kehidupan tokoh saya mengalami keberuntungan berantai menuju kehidupan yang lebih baik. Didalam cerpen ini tokoh saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan kebohongan yang dialaminya mulai dari pelunasan kredit di bank dan seterusnya, tokoh saya selalu berusaha mengutarakan kebenarannya disetiap urusan-urusan yang dijalaninya tetapi keberuntungan-keberuntungan itu terus menghampiri tokoh saya dari mulai kredit bank yang lunas begitu saja padahal belum dibayar, uang kuliah gratis, sampai dapat pekerjaan kembali setelah dipecat. Sampai akhirnya tokoh saya melakukan sesuatu untuk terjadinya keseimbangan setelah banyak hal yang terjadi.
          Kacamata Tanpa Bingkai merupakan cerpen yang mempunyai kesamaan judul dengan buku ini. Keunikan dari cerpen ini yaitu menekankan pada judul yang diangkat pada buku tersebut. Kacamata Tanpa Bingkai mengisahkan tentang Paman Cortinez dan tokoh “Aku”. Dimana mereka selalu berdebat  membahas segala sesuatu dari dua sisi yang berbeda. Tidak hanya berdebat dari satu sisi saja tapi juga dari sisi lainnya. Dalam cerpen ini penulis ingin menyampaikan bahwa dalam menjalani kehidupan ini diperlukan adanya pembaruan dengan melihat sesuatu dari dua sudut yang berbeda seperti yang terdapat dalam cerpen ini
          Buku cerpen ini sangat menarik dengan tema kehidupan yang beraneka ragam ditambah dengan banyak nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari seperti nilai-nilai agama islam, buku ini cukup mudah dipahami dengan bahasa dan kata yang cukup umum sehingga pembaca tidak akan merasa bosan atau jenuh, namun sayang dengan berbagai cerita menarik didalam buku kumpulan cerpen ini cover buku ini justru kurang menarik dan terlihat biasa saja sehingga jika dilihat sekilas akan banyak orang mengabaikan buku ini untuk dibaca. Buku ini cocok untuk dibaca seluruh lapisan masyaraka baik remaja, dewasa maupun para orang tua.

Referensi :
http://azizurrrahman.blogspot.com/2017/12/resensi-buku-kumpulan-cerpen-kacamata.html




Judul Buku     : Sepatu Dahlan.
Penulis            : Krishna Pabichara.
Penerbit          : Noura Books.
Tahun              : 2012.
Tebal               : 392 halaman.
Ukuran            : 14 x 21 cm.
ISBN               :  978-602-9498-24-0
Referensi         Mizan Store

Ulasan

Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging-denging... Siksaan lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku. Sungguh, aku butuh tidur, sejenak pun bolehlah.  Supaya lapar ini terlupakan... 

Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Baginya, rasa perih karena lapar adalah sahabat baik yang enggan pergi. Luka di kakinya menjadi bukti perjuangan dalam menjalani hidup. Dia harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Sepulang sekolah banyak pekerjaan yang harus dilakoninya demi sesuap tiwul, mulai dari nguli nyeset, nguli nandur sampai melatih tim voli anak-anak juragan tebu.

Dan di usia mudanya, Dahlan sudah banyak merasakan kehilangan. Buku catatan hariannya pun dipenuhi curahan kegalauan hati yang selalu dia alami. Setiap kali terpuruk seringkali dia berkata pada dirinya sendiri, hidup, bagi orang miskin sepertiku, harus dijalani apa adanya. Didikan keras sang Ayah dan kakak-kakak tercintanya serta senyum sang Ibu, selalu bisa membuatnya bertahan dan terus berjuang dalam hidup. Selain itu, di atas segala luka dan kesedihan yang dialaminya dia punya dua cita-cita besar yang membuatnya semakin bekerja keras: sepatu dan sepeda.

Musyawarah Ngengat
Cerpen Geger Riyanto


Banyak hal yang tidak diketahui manusia dari kami.Yang terutama, manusia tak tahu apa yang kami mewariskan ingatan ke anak-anak kami. Bukan mendukung memaktubkan ingatan badani tentang bagaimana menggunakan senjata-senjata yang tersedia di tubuh kami, tetapi ingatan tentang pengalaman hidup kami.

Ingatan akan sangat kami membenci manusia. Hanya karena anak-anak kami menggerogoti setitik – dua titik kain yang dikenakannya — karena kodratnya untuk bertahan hidup — mereka membantai jutaan dari kami dengan cara-cara yang mengenaskan.

Hanya untuk melihat bagaimana kawan-kawanku terbujur kaku dengan wajah yang membiru. Maut yang berwujud gumpalan awan — yang anehnya terbang jauh lebih rendah dari ketinggian langit itu — bangkit dari tongkat ajaib yang dipegang seorang manusia.

Namun, di antara kawan-kawanku yang berhamburan bagai dedaunan yang akan melepaskan terpaan angin, kekasihku — kekasih pertamaku itu — mengangkat melawan melawan. Kemudian, sayapnya berangsur meninggi dan bergerak, berusaha mengepak.

Jikalau kau ada di situ, menyandarkan daun telingamu ke keheningan yang diambil dari rombongan kematian itu, kau akan mendengar jantungku kembali berderap segiat kepak sayap di saatsaat aku menjalin selamat datang: aku gembira. Hatiku yang remuk kembali utuh.

Namun, saat ia hendak mendongak, sepertinya untuk membalas tatapanku— dan tentunya menyempurnakan kebahagiaanku—seorang manusia merenggutnya. Dan dengan wajah yang sediam batang pohon, ia merobek kekasihku seperti merobek daun, seperti merobek jantungku di saat yang sama.

Lalu dilepasnya kekasihku ke rengkuhan angin yang menerpa. Kekasihku, dalam kepingan-kepingan, hanyut ke samudra kematian untuk selamanya. Seandainya aku bisa memilih, aku tak ingin mewariskan ingatan getir ini kepada anak-anakku. Namun, aku tak bisa menentang ketetapan Sang Pemberi, entah apa maksudnya, namun kurasa baik.

Lagi pula, ingatan ini akan mengajar anak-anakku kewaspadaan akan betapa bengisnya manusia. Maka, suatu hari kami semua bermusyawarah, merundingkan bagaimana caranya membalas manusia, mamalia pemegang gelar pembantai terbesar selama abad-abad yang berjalan.

”Apakah kita harus menyerang mereka secara bergerombol seperti yang dilakukan para belalang dahulu, waktu diperintahkan oleh Tuhan untuk menelanjangi kebobrokan Firaun?” usul salah seekor saudara kami. ”Tidak, saudaraku. Senjata yang manusia gunakan sudah berbeda dengan zaman Firaun.

Seandainya pun belalang-belalang itu menyerbu Firaun hari ini, mereka akan segera dilumat dengan awan maut manusia,” jawab tetua kami. ”Tapi,bukankah ada Tuhan?” ”Percuma saja tanpa manusia nabi.

Sebab, bila Tuhan datang sendiri tanpa melalui perantaraan manusia nabi, dunia yang terbatas ini dapat luluh lantak dalam sekejap.” ”Lantas,mengapa tak ada ngengat nabi,tetua?” ”Sudahlah.

Sudah sepanjang sejarah, bangsa ngengat merenungkan pertanyaan itu.Tentu musyawarah yang bagai setitik embun dalam sejarah bangsa ngengat ini tak muat untuk merenungkan pertanyaan tersebut.” ”Baik, tetua. Lagi pula, kita sedang mau bertindak, bukan mengeluh.”

Tiba-tiba aku ingat, suatu waktu aku pernah melihat seorang manusia dewasa meronta-ronta, meraung raung selayaknya manusia anak, dan menampar manusia-manusia dewasa lainnya yang, entah mengapa, tertunduk diam di hadapannya. Lantas, dengan tangannya yang gemulai ia menunjuk-nunjuk ke lubang di bahu baju yang dipakaikan pada sesosok patung manusia.

Mengapa sebegitu gegarnya? Kutelusuri dengan waspada pakaian itu,namun tak kutemukan sesuatu yang berbeda kecuali di bagian leher pakaian itu tertempel tulisan ”Guess”. Mengapa manusia dapat kembali menjadi kera hanya karena itu? Sama sekali aku tak mampu mencernanya.

Namun, menyenangkan sekali melihat manusia derajatnya merosot jauh, bahkan di bawah bangsa lintah yang berbangga walau menyeret alat reproduksinya di atas lumpur. Saling menyakiti satu sama lain hanya karena sepotong benda tak bernyawa— yang bahkan tak bisa meruang dalam perut yang lapar.

Dan menurut ingatan nenek moyangku, hanya karena itu pun mereka tega saling mencincang dan mengeluarkan isi perut sesamanya. Kalau begini, nampaknya kami para ngengat pun bisa memicu perang dunia manusia ketiga. ”Kurasa aku tahu apa yang bisa kita lakukan, saudara-saudariku,” ujarku dengan tenang.

Akhirnya kami semua menetapkan bahwa siapa pun yang dapat mendaratkan telurnya di pakaian manusia yang berbubuh tulisan ”Guess”, ”Gucci”, ”Etienne Aigner”,”Marks & Spencer”, ”Boss”, ”Giorgio Armani”, dan lain-lain yang sejenisnya, akan kami angkat sebagai seekor pahlawan dalam ingatan kami.

Itu adalah penghargaan tertinggi yang bisa diterima seekor ngengat. Kata manusia, hidup kami sangat Shakespearian karena harus memilih antara bercinta atau bertahan hidup. Benar bahwa lelaki kami mati setelah bercinta dan wanita kami meninggalkan hidup setelah mendaratkan telur.

Tapi mereka, manusia, sungguh tolol dalam mengartikannya. Apakah yang ada di benak mereka hanya bercinta? Kendati pun tak bercinta, darah dan daging kami hanya seusia sekali pergantian musim. Namun, dalam almari kelabu kepala anak-anak kami— manusia menyebutnya otak, tak berselera sekali?—kami menjadi abadi.

Dan dia, yang diangkat sebagai pahlawan dalam ingatan kami, akan terus hidup dalam palungan ingatan semua ngengat sepanjang jutaan tahun yang melintang.Kendati tongkat kekuasaan bumi telah berpindah-pindah tangan.
***

Ingatan yang diwariskan oleh seluruh nenek moyang kami menyatakan diri secara sekaligus dalam benak kami seperti pasar. Dalam lorong ingatan yang berjejalan itu, kami menyaksikan masa-masa surga bagi para ngengat yang datang setelah dinosaurus tiba-tiba punah dari muka bumi.

Dunia benar-benar menjadi milik para ngengat seutuhnya. Betapa indahnya kehidupan saat itu. Namun,masa-masa surga itu dalam sekejap pula musnah karena mamalia tiba-tiba muncul dan tak lama kemudian menjadi penguasa dunia. Dalam sekejap berikutnya, ingatan kami tersambung ke ingatan terakhir yang diwariskan kepada kami: bagaimana ibu kami meninggal.

Ia dilumat dengan sapu oleh mamalia yang menjadi penguasa dunia hari ini. Untunglah, sekilas, sebelum dipukul oleh makhluk yang lebih dingin dari zaman es itu,ibu berhasil mendaratkan kami sebagai telur-telur di atas gaun yang membungkus rapat tubuh patung manusia dan bertuliskan ”Marks & Spencer” di lehernya.

Saat itu kami langsung tahu bahwa ibu kami menjadi pahlawan bagi para ngengat. Ingatan-ingatan nenek moyang kami terus berjejalan, membuat perasaan kami terbuai di satu waktu, namun terbanting hingga remuk di detik berikut yang menjalin ingatan getir.Kami ingin bisa mengendalikannya, tapi tak bisa, sebab kami sendiri tak mempunyai ingatan.

Di antara litani ingatan nenek moyang yang riuh menyesaki benak kami, kami tak memiliki ingatan yang berasal dari pengalaman kami sendiri. Sejak kami menetas dari telur, kami tak menyapa apa pun, kecuali kegelapan. Tapi, di sekeliling kami tersedia banyak sekali makanan dan semuanya melelehkan wewangian dunia dalam mulut kami: wol, katun, sutra, kasmir, bahkan bulu beruang.

Maka, kerja kami hanyalah makan atau mendengarkan suara kami sendiri mengunyah dan mencerna, memecah kesunyian sepanjang hayat ini. Kesenangan kecil itu harus berakhir, sebab mulut kami dengan sendirinya tiba-tiba memuncratkan berhelai- helai serabut yang memintal tubuh kami,lalu membungkusnya rapat-rapat.

Rupanya kami masuk ke masa kepompong, masa yang membunuh kami dengan kebosanan. Dan kalau bukan kebosanan yang menambatkan belenggunya di pikiran kami, tentu tak lain adalah ingatan nenek moyang yang merobek-robek hati kami, namun kemudian menjahitnya kembali, namun lantas merobeknya lagi.

Namun, akan tiba saatnya untuk mengakhiri semua ini. Saat di mana sayap kami tumbuh,membelah udara hening yang sedari awal menyelimuti punggung kami.Saat bagi kami untuk melawan gaya tarik bumi yang menindih kami dalam ketidakberdayaan, dan kemudian terbang membelah kesunyian. Menerabas kegelapan ini. Merayakan keabadian ibu kami bersama saudara-saudari ngengat yang menanti kami di luar kegelapan ini.
***

Seandainya usia ngengat-ngengat itu mencapai satu tahun, barulah mereka akan menyapa cahaya, kebisingan, dan dunia luar—barulah mereka akan mengalami hidupnya sendiri sebagaimana yang mereka impi-impikan sepanjang hayat. Namun tidak. Ngengat terakhir mati pada hari keseratus sepuluh.

Menyisakan sekitar dua ratus empat puluhan hari lagi sebelum Natal selanjutnya, sebelum lemari kayu oak yang kokoh dan bergaya khas Yunani itu dibuka untuk menyimpan gaun-gaun baru bertuliskan ”Gucci”dan ”Giorgio Armani”. Dan cahaya yang akhirnya menyelisik masuk ke lemari yang rapat itu, menyapa ngengat-ngengat yang sudah berhamburan bagaikan daun.

Menyapa busana-busana berkelas yang sudah berlubang dan compang camping tak karuan bagaikan medan perang. Menyapa kesunyian yang sejenak pernah diisi oleh kepak sayap para ngengat yang bernafsu membelah kegelapan, tapi tak bisa: apa daya makhluk setipis daun dan tiga senti melawan kayu oak raksasa nan kokoh?

Namun, apa yang direncanakan dalam musyawarah ngengat tak pernah berhasil—kendati martir telah berguguran. Sebab sang nyonya besar melemparkan gaun barunya ke dalam almarinya dan langsung menutupnya, tanpa sepintas pun menoleh ke gaungaun lamanya yang sudah dibabat oleh sepasukan ngengat muda yang semusim lalu menetas di atasnya.

Lantas, ia melanjutkan hidupnya yang ganjil, tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Para ngengat yang bertugas mematamatai istana sang nyonya besar kian tidak mampu memahami perilaku makhluk bernama manusia ini. Mereka pun berpikir, siapa pula ngengat yang mampu.

Maka, peristiwa ini sepatutnya menjadi persoalan baru untuk dipecahkan dalam musyawarah besar ngengat selanjutnya. Dan mungkin ngengat yang dapat benar-benar memecahkannya kali ini patut diganjar Nobel Perdamaian Ngengat. ***

Depok, 2008
Seputar Indonesia, Edisi 14 Desember 2008)

Engkau adalah Rumah
Cerpen Dianing Widya


Matahari pecah di kepalaku. Kebahagiaan di depan mata itu, dibawa hancurkan Layla. Tanggal pernikahan yang kita sepakati bagai mainan bagimu. Ponselmu tak pernah aktif. Apartementmu kosong. Teman-teman kantormu hanya dinilai kamu pindah tanpa meninggalkan alamat kerja baru. Kedua orangtuamu, saudaramu hanya mengangkat bahu kompilasi aku bertanya meraihmu.

Berbilang tahun aku memilih sendiri. Aku tak punya hasrat dengan siapa pun selain dirimu. Lalu setiap pulang kampung, selalu saja pertanyaan yang berulang ibu tanyakan kepadaku. Kapan menikah Ganang? Pertanyaan ibu yang berulang, kesulitanku patah bayangan membuat aku frustasi. Aku harus menenggelamkan diri untuk melupakanmu Layla, hingga aku menemukan duniaku. Mengumpulkan anak-anak untuk aku sekolahkan bersama beberapa teman.
* * *

Darahku berdesir saat aku menemukan di sekolah dasar dengan menggandeng seorang anak laki-laki. Sampai hatimu Layla. Engkau meninggalkanku demi laki-laki lain. Sekarang di sampingmu seorang anak laki-laki menambah hatiku teriris. Engkau menggandengnya dengan penuh kasih.

Tentu karena kamu adalah seorang anak.Aku pun menyekolahkan seorang anak di sini. Sayang dia bukan anak kandungku, hanya anak yang terlantar. Ayahnya meninggalkannya saat ia berumur lima tahun. Kakaknya saat ini kelas dua SMP. Untuk menyambung hidup ibu mereka menjadi pencuci baju di tiga rumah.

Layla, banyak dari anak-anak yang aku dan teman-teman sekolahkan datang dari keluarga yang salah. Suami yang pergi mendadak lalu menghabiskan tahun-tahun tanpa kabar, ayah yang sembunyi-sembunyi menikah lagi dan memilih menceraikan istri pertama, setelah istri pertama mengetahui dan tidak menerima. Ada lagi suami yang mengusir istri setelah ia menikah lagi.

Layla, kamu tak akan percaya dengan ceritaku, seperti pertengkaran saat aku berjuang. Banyak istri yang dizalimi meminta izin untuk ikut berpartisipasi. Ironisnya mereka dari kaum papa, lalu pendidikan anak-anak terbengkalai karena si istri harus bekerja sama. Untuk melupakanmu Layla aku dan temanku menggalang dana. Menyelamatkan anak-anak mereka.

Pelan-pelan pergaulanku dengan mereka, buat aku senang mereka bagian dalam hidupku. Aku senang di sini, Layla. Aku menghela napas sembari melihatmu dari kejauhan. Seandainya dulu tetap tetap menikah denganku tentu saja sempurna.

Melihat anak yang dibiarkan gandeng, aku menautkan kening. Kita berpisah belum genap lima tahun. Kini melahirkan anak usia tujuh tahun. Logikanya jika menerima langsung hamil setelah menikahi anakmu, baru diterima empat sampai lima tahun. Anak siapa dia Layla. Mungkinkah menerima meninggalkanku untuk menikah dengan duda kaya raya?
* * *

Layla, sejak pertemuan kita di sekolah itu, aku ingin tahu dan bertemu kamu. Aku ingin tahu, tetapi sebentar hatiku susut. Tak pantas jika aku lolos jejakmu, sementara kamu sekarang adalah istri orang. Maka setiap aku mengantar anak yang aku sekolahkan itu, aku hanya ingin melihatmu dari jauh. Tapi tahukah kamu Layla, aku benar-benar ingin menyapamu tetapi hanya ingin bertanya kabar.

Sampai suatu hari saya berpikir Bagaimana Kamu selalu mengantar anakmu sekolah? Aku belum pernah melihatmu bersama suami. Hal ini yang membuat saya setuju-menduga tentang kamu. Mungkinkah kamu sekarang menjanda. Pikiran curangku berujar jauh lebih baik. Aku mau menjadi suamimu Layla. Tak peduli kamu adalah janda dengan beberapa anak.

Satu tahun sudah cukup bagiku untuk menuntaskan rasa penasaranku. Di hari pengambilan rapor kamu datang sendiri. Engkau terkejut aku menyapamu. Semula melihatku seperti melihat hantu di siang hari. Terlihat ingin mencoba tetapi sikap santun yang diundang harus membuatmu bertanya kabarku. Tentu kabarku sangat buruk.

Engkau lalu menghela napas. Menunduk. Tiba-tiba anak kecil yang selalu membawa antar itu menghampirimu, bergelayut di pinggangmu.
"Tante pulang." Jantungku berhenti berdetak. Anak itu mengundangmu tante, bukan ibu atau mama.

"Attar," tiba-tiba seorang gadis menghampiri anak laki-laki itu dan merayunya untuk pulang. Anak itu mengiyakan.
"Mbak, Attar pulang sama aku ya," ujar gadis itu. Engkau mengangguk. Aku melihat anak laki-laki bernama Attar itu sangat akrab dengan gadis itu. Terdengar juga ajakan gadis itu ke sanggar untuk mengambil buku bacaan baru.

Sekarang tinggal aku dan dia. Sekolah satu persatu meninggalkan penghuninya. Siang itu aku beranikan diri memintamu berbincang sebentar. Tanpa aku bertanya sebaliknya malah mengajakku ikut ke mobilmu. Aku terpana. Bagaimana mungkin seorang istri satu mobil dengan pria yang bukan pria? Aku ragu tetapi membawa dengan santai menggandeng lenganku.

Jantungku bergemuruh Layla saat meminta bimbing lenganku, sebelum kompilasi kita benar-benar masuk dalam mobil. Aku panas dingin. Aku takut jika ada yang melihat kita dan mengadu ke suamimu. Engkau malah tersenyum tipis kompilasi aku. Membuat aku yakin-duga tentang pertunanganmu.

"Aku belum pernah menikah dengan Ga," ucapmu tanpa menolehku. Aku tertegun. Lima tahun yang lalu berlalu tiba-tiba. Sekarang terima kasih belum menikah. Lalu anak yang selalu kau antar sekolah itu anak siapa. Engkau jelaskan jika anak itu bukan anakmu. Aku belum tahu ke mana Arah bicaramu. Tak lama kamu belokkan mobil ke kiri. Terus masuk ke dalam, sepanjang jalan adalah rel kereta api. Kamu terus melaju mobil tanpa aku tahu arah tujuanmu.

Tak lama kemudian mengeluarkan hentikan mobil. Aku memandangmu sejenak. Di depan sana sampah menggunung. Engkau menurunkan kaca mobil lalu mematikan mesin. Engkau memandang ke gunungan sampah itu.

"Attar aku menemukan meringkuk di situ." Aku ambil Arah telunjukmu. Sebuah batu besar.
"Tubuhnya memar-memar, dia dinilai dipukuli oleh persetujuan." Aku menunduk. Bagaimana mungkin ayah melepaskan yang masih kecil. Jauh di lubuk hatiku, aku sangat ingin memiliki keturunan. Aku ingin uang dari keringatku bisa membantu anak dan istriku. Betapa menyenangkan punya anak sendiri. Pulang kerja, kami senang anak, hilang sudah letih karena senyum dan tawa mereka. Setiap minggu aku bisa membawa anak-anakku keluar rumah. Makan di rumah makan favorit, atau jalan-jalan ke taman, atau pergi ke bioskop. Alangkah senangnya melihat anak-anakku bersama perempuan yang aku cinta, Layla.

Dadaku terasa sesak. Kenyataan menamparku keras. Udara ludah yang aku telan terasa perih di kerongkongan. Aku menghela napas lagi. Aku memanggil nama Layla dalam-dalam membaca rongga dadaku.

"Attar menolak. Dia menantang aku ingin mengantarnya pulang," ucapmu antara rasa senang hatiku. Cerita panjang lebar lebar. Berhasil berpisah denganku. Aku terpana. Apakah kamu tidak tahu Layla? Aku remuk redam karena kepergianmu? Aku terpana lagi kompilasi mencari anak-anak yang ditelantarkan orangtuanya untuk kamu sekolahkan, kamu tampung di sebuah rumah, kamu bimbing mereka untuk memiliki semangat untuk maju. Engkau katakan itu sebagai pelarianmu.

"Aku ingin mereka punya impian," ujarmu kemudian. Aku diam. Duduk di sampingmu akan menjadi sia-sia jika aku tak diundangmu untuk mengatakan alasanmu tak menikah sampai sekarang.

"Aku tak mungkin menikah dengan Ganang." Aku terhenyak. Tanpa menunggu pertanyaanku menunggu menjawab dengan terbata-bata. Penyakit yang menyebabkan derita tidak diizinkan untuk hamil. Aku tercengang kompilasi memanggil nama penyakit yang menyeramkan itu. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu rahimmu harus dibawa. Kamu jelas tak bisa hamil. Satu hal yang aku sesalkan Cerita tentang tak pernah cerita.
"Aku takut," ucapmu pendek sambil menunduk.

Aku lemas. Aku sandarkan kepala di jok mobil. Memejamkan mata. Tak aku sangka sama sekali.

"Kita nyaris menikah Layla, kita sudah memesan undangan. Tiba-tiba ..." "Aku bingung, frustasi tak tahu harus bagaimana. Menikah denganmu sangat tidak mungkin. Laki-laki mana yang mau menikah dengan perempuan yang tak bisa mendapatkan baju." Aku menghela napas dalam-dalam. Aku mengangkat kepalaku. Memandangnya lekat-lekat. Aku memintanya untuk diantar pulang.
* * *

Aku rebahkan tubuhku di atas kasur. Penjelasan Layla tadi siang mengoyak batinku. Pelan-pelan mengalir perasaan Lima tahun bukan waktu pendek untuk kesendirian. Aku sampai detik ini masih menyimpan perasaan sayang menggunakan. Aku memang ingin menikahinya, lalu dari rahimnya lahir anak-anakku. Aku menggeleng. Layla tak bisa memberiku keturunan. Apa arti hidup tanpa perjuangan, aku tak bisa membayangkan hari-hari senyap tanpa anak-anak.
Aku harus meninggalkan Layla karena kanker ovarium yang diderita. Haruskah ia memenangkannya sendiri sakitnya?

Ini tidak adil. Pantaskah aku meninggalkannya setelah tahu ia tak bisa memberiku anak? Aku beranjak dari tempat tidurku. Akan aku temui Layla. Aku akan meminta tolong untuk mau menikah denganku. Tak peduli ia takkan bisa menjadi memberiku anak. Bersamanya aku ingin menyekolahkan banyak anak lagi. Anak-anak dari kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tanganku, Layla juga kita. ***

* Depok, Oktober 2011
Sumber: Suara Karya,  Sabtu, 5 November 2011
http://goesprih.blogspot.com

Mengenal Fiksi Mini
Fiksi mini karya Kurniawan Junaedhie (KJ) berikut ini merupakan bagian dari buku ANTOLOGI 600 FIKSI MINI yang memuat lebih dari 600 buah fiksi mini sejenis. 
Fiksi mini adalah pernyataan yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini. Bentuknya karya fiksi yang berformat mini, hanya beberapa kalimat saja .. Meskipun dalam ukuran mini, para pengarang - umumnya penyair dan prosais - ini berusaha mengajak pembacanya ke alam kesadaran baru. Kadang-kadang terdiri dari tawa, yang tidak semua menyenangkan memang, karena kadang-kadang ada ironi di sini. Yang jelas, dibaca bebas, diterjemahkan sesuai keinginan, ilusi dan fantasinya.
Berikut salah satu contoh fiksi mini karya KJ. Semoga memberi inspirasi
BUKU
Buku itu melotot ke arah saya. Dia membetulkan kacamata saya. Iqra, katanya.
TIDUR DI DEPAN TELEVISI
Pacarku bertanya, "sedang apa, Sayang?" Kujawab, "aku sedang ditonton televisi, Sayang."
DI RANJANG
Tengah malam, aku dibangunkan guling. "Sudah berapa malam ya, kamu tidur bersama ranjang?"
ADIK BARU
Suami memeluk dari belakang. "Si bungsu pengen punya adik," bisiknya. Istri menyepakakan dukungan. "Beli saja kalau besok kamu ke kantor."
SAPI
Kepala itu menggelinding. Masih terngiang suara gunting.
INGATAN
BU: Disewakan sejumlah kenangan. Masih segar dalam ingatan.
CIUMAN PERANCIS
Setelah kami berciuman, aku pingsan. Ternyata bibirnya berbisa.
CIUMAN YUDAS
Setelah dia menciumku, besoknya aku flu dan batuk-batuk.
PENANTIAN
Di lapangan bola, istri pemain sepakbola itu berkata: "Aku akan setia menunggumu 1000 tahun lagi." Setahun berlalu, lapangan sepakbola itu sudah jadi supermall.
KEKASIH
Astaga. Kekasihku pulih dinodai pemulihan.
ISTRI
Jauh di hati dekat di mata.
BUKAN ISTRI
Jauh di mata dekat di handphone.
PEREMPUAN KESETIAAN
Sementara tangan kanannya mengerik punggung disetujui, tanganku menemukan pesan singkat untuk kekasihnya: Aku mencintaimu!
SEKOLAH BARU
Ini halaman sekolah anak konglomerat, Nak. Bukan halaman buku puisi Bapak!
INDEKOS
Kekasihku indekos di rumah penilaian.
LAGU MALAM
Setiap malam, kekasihku tidur bersama.
LUNA MAYA
Satpam muda itu nyelonong ke kamar kerjaku. "Akulah anakmu yang benihnya kamu buang ke waktu kamu mandi." Astaga, mirip dia dengan Luna Maya.
3 MENIT
Pacarku kirim SMS: “Jangan ganggu aku 3 menit saja. Aku lagi bertengkar dengan suami. ”
TIDUR
Setiap malam saya baru tidur jika sudah ada yang bangun.
SAJAK
Begitu siuman dari pingsannya, kata-kata dalam sajak melihat arlojinya. Aneh, ambulan yang membawa ilham ke rumahsakit belum juga tiba, katanya.
BATUM CIUMAN
Kami mendekat. Nafasnya memburu. Kupejamkan mata. Kumonyongkan bibirku. "Miauw!" Tiba tiba tiba kucing melesat di kaki.
KUCING
Kamu dapat mengambil hatiku dan meletakkannya di tempat tersembunyi sampai suatu hari nanti. Kucing menggondolnya dan membawanya pergi.
TERMIN
Di cermin, jerawatnya bertemu rembulan. "Numpang tanya, salon terdekat mana ya?"
DI JAKARTA
Aku naik busway. Jalanan riuh rendah. Sopir ngebut. Debu berhamburan. Sebuah kepala hinggap di pangkuan.

Kamis, 08 November 2012
Sumber: kurniawan-junaedhie.blogspot.com

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget